Gempa M 7,7 Guncang NTT, Mahasiswa KKN UMY Beralih Jadi Relawan Kebencanaan

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:53 WIB
 Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8), turut dirasakan warga di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. (Foto: Dok. Humas UMY)
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8), turut dirasakan warga di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. (Foto: Dok. Humas UMY)

MANGGARAI TIMUR — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8), turut dirasakan warga di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Di tengah kepanikan dan keterbatasan fasilitas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) memilih mengubah perannya menjadi relawan kebencanaan.

Mahasiswa yang tergabung dalam Tim Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) 11 UMY tengah menjalankan program KKN di Desa Nanga Mbaling ketika gempa terjadi. Mereka bersama warga sempat melakukan evakuasi ke lapangan selama sekitar dua jam untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.

Setelah situasi memungkinkan, mahasiswa dan warga kemudian mendirikan tenda di sekitar posko KKN. Posko tersebut menjadi salah satu titik koordinasi untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi darurat pascagempa.

Anggota PENA 11 UMY, Fifin Anggela Prista, mengatakan dampak gempa cukup terasa di sejumlah wilayah Sambi Rampas, termasuk Desa Nanga Mbaling dan Kelurahan Pota. Sejumlah warga mengalami luka, sementara fasilitas umum dan aktivitas ekonomi masyarakat turut terganggu.

Baca Juga: Asyik Bermain, Bocah 10 Tahun Tercebur Sumur Tua Sedalam 13 Meter

Keterbatasan obat-obatan dan perlengkapan medis menjadi salah satu persoalan yang dihadapi di lapangan. Warga terdampak juga membutuhkan bahan pangan dan air minum karena sejumlah fasilitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mengalami gangguan.

Di Kelurahan Pota, warga di kawasan pesisir dan sekitarnya memilih mengungsi dan mendirikan tenda secara mandiri. Kondisi tersebut membuat kebutuhan bantuan semakin mendesak.

Gempa juga memaksa mahasiswa UMY mengevaluasi kembali agenda KKN yang telah dirancang sebelumnya. Program kerja yang semula disiapkan untuk kegiatan pengabdian masyarakat akan dialihkan agar lebih sesuai dengan situasi pascabencana.

Fifin menyampaikan perubahan tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan dosen pembimbing lapangan (DPL), masyarakat, serta pihak pemerintah setempat. Mahasiswa akan berusaha membantu sesuai kemampuan dan kebutuhan warga.

Baca Juga: Newcastle Kembali Kejar Joao Palhinha, Aston Villa Terancam Kehilangan Target

Bagi Tim PENA 11, KKN kali ini tidak lagi sekadar menjalankan program yang telah disusun. Di tengah situasi darurat, mahasiswa harus hadir sebagai bagian dari masyarakat, membantu warga bertahan dan melewati masa sulit setelah gempa.

UMY sebelumnya memastikan sebanyak 61 mahasiswa KKN yang berada di NTT dalam kondisi selamat. Selanjutnya, mahasiswa terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.

Kebutuhan medis, logistik, air minum, dan kebutuhan dasar pengungsi menjadi perhatian utama. Kehadiran mahasiswa KKN UMY di tengah warga diharapkan dapat ikut meringankan beban masyarakat selama masa tanggap darurat.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Humas UMY
gempa NTT gempa M 77 Manggarai Timur UMY KKN UMY