Tari Tradisional Masih Diminati, Latihan di Sekar Nyentrik Jadi Ruang Bangun Rasa Percaya Diri

Dzika Fajar • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 08:15 WIB
BERLATIH: Anak-anak mengikuti latihan tari di Sanggar Tari Sekar Nyentrik, Mendak, Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul. Dzika Fajar/Radar Jogja
BERLATIH: Anak-anak mengikuti latihan tari di Sanggar Tari Sekar Nyentrik, Mendak, Girisekar, Kapanewon Panggang, Gunungkidul. Dzika Fajar/Radar Jogja

GUNUNGKIDUL - Di tengah maraknya tari modern di media sosial, tari tradisional masih diminati anak-anak dan remaja. Hal itu terlihat di Sanggar Tari Sekar Nyentrik, Mendak, Girisekar, Panggang, yang kini memiliki sekitar 100 anggota aktif dari jenjang TK hingga SMA.

Setiap Minggu, anak-anak datang ke Sanggar yang berdiri sejak 2012 itu. Bukan untuk sekadar melihat pertunjukan, tetapi belajar langsung dari gerakan dasar, menghafalkan koreografi, hingga berlatih tampil.

Ratusan anggota tersebut menjadi gambaran bahwa di tengah perubahan cara anak-anak mengenal tari, ruang untuk mempelajari tari secara langsung masih diminati.

Baca Juga: Pakar Hidrologi UGM Soroti Krisis Air Mengintai DIY, Dorong Tak Sekadar Menunggu Dropping Air

Di sinilah keberadaan Sekar Nyentrik menarik untuk dilihat. Ketika tari modern semakin dekat dengan keseharian anak melalui media sosial, apa yang membuat mereka tetap datang ke sanggar?

Bagi Anathasia Cita Rismawanti, penggagas sekaligus pengajar Sekar Nyentrik, jawabannya tidak hanya soal mempelajari gerakan tari. “Tari adalah media untuk membangun rasa percaya diri,” ujar Cita.

Lulusan Pendidikan Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu melihat proses belajar tari sebagai pengalaman yang membuat anak terbiasa tampil di hadapan orang lain. Karena itu, latihan tidak hanya diarahkan agar peserta mampu menguasai gerakan, tetapi juga berani mengekspresikan diri ketika berada di atas panggung. Peserta sanggar berasal dari berbagai jenjang pendidikan TK, SD, SMP dan SMA.

Baca Juga: Keterampilan Pramuka Masih Relevan di Era Digital; Perlu Disinergikan dengan Perkembangan Tekonologi

Mereka berlatih setiap Minggu dengan jadwal yang disesuaikan berdasarkan kelompok usia. Anak-anak TK dan SD berlatih pukul 08.00-10.00. Berikutnya, peserta SD dan SMP berlatih pukul 10.00-12.00. Sementara peserta SMA mendapat giliran pukul 13.00-15.00.

Kegiatan yang berlangsung dalam beberapa kelompok tersebut juga melibatkan anak didik senior untuk membantu melatih peserta yang lebih muda.

Tari Tradisional di Tengah Perubahan Zaman

Keberadaan sekitar 100 anggota aktif menunjukkan bahwa perkembangan tari modern tidak serta-merta menghapus ketertarikan anak-anak terhadap tari tradisional.

Baca Juga: Usai Bela Timnas Indonesia di AFF, Cahya Supriadi Belum Gabung PSIM Jogja

Media sosial memang mengubah cara generasi muda mengenal tari. Mereka tidak lagi harus datang ke sanggar atau menunggu pertunjukan untuk melihat sebuah gerakan. Cukup melalui layar ponsel, berbagai tarian dapat dipelajari dan ditirukan. Tetapi, bagi sebagian anak di Girisekar, pengalaman belajar tari masih berlangsung secara langsung di sanggar.


Mereka datang setiap Minggu, bertemu dengan pelatih dan teman sebaya, kemudian mengulang gerakan hingga mampu menguasainya. Proses tersebut menjadi pengalaman yang berbeda dari sekadar mengikuti koreografi yang muncul di layar.

Bagi Cita, keberadaan sanggar menjadi salah satu cara agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk mengenal dan mempelajari tari. Apalagi, kegiatan itu dibuat tetap terjangkau. Setiap peserta hanya dikenai biaya Rp 5.000 untuk sekali latihan.

“Sanggar tari bukan untuk mencari materi, akan tetapi sebagai pengabdian ke masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga: Bisa Main di Kanan, Kiri hingga Tengah, Marvin Loria Siap Jalankan Instruksi Van Gastel

Biaya yang relatif murah membuat kegiatan latihan dapat diikuti anak-anak dari lingkungan sekitar. Dukungan anak didik senior juga membantu kegiatan sanggar tetap berjalan meski pesertanya berasal dari berbagai kelompok usia.

Sekar Nyentrik akhirnya tidak hanya menjadi tempat berlatih tari. Sanggar tersebut menjadi salah satu ruang tempat tari tradisional terus diperkenalkan kepada generasi muda. (cr1/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
sekar nyentrik percara diri tari modern Panggang Gunungkidul tari tradisional