LUWU - Udara pagi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, terasa hangat oleh antusiasme para penggerak dan tenaga penyuluh.
Selama sepuluh hari, dari 20 hingga 29 Juli 2026, denyut nadi pertanian lokal berdetak lebih kencang.
Puluhan penyuluh, kelompok tani, hingga perwakilan desa berkumpul membawa satu misi besar: merawat bumi sekaligus memperkuat pangan nusantara melalui Program Food Systems, Land Use, and Restoration (FOLUR).
FOLUR 5.2: Bersama Petani, Membangun Negeri.
Kolaborasi strategis antara PT LPP Agro Nusantara, Kementerian Pertanian, dan Folur Indonesia ini menghadirkan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tenaga Penyuluhan untuk komoditas kakao dan padi (Output 5.2).
Bertempat di Hotel Batari dan Hotel Belia, sebanyak 60 peserta terpilih dibagi dalam dua kelas paralel untuk menyerap ilmu berkelanjutan yang telah dirancang berbasis kebutuhan riil lapangan (Learning Needs Assessment/LNA).
Pelatihan ini tidak sekadar menjejalkan teori di dalam ruangan.
Para peserta diajak memahami tata kelola pertanian secara menyeluruh —mulai dari perspektif kesetaraan gender, pengelolaan keuangan rumah tangga tani, hingga penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP).
"Peserta belajar mulai dari topik kesetaraan gender, manajemen keuangan, kelestarian lingkungan hingga berbagai aspek teknis pemetaan dan tata kelola panen," ungkap Pujangga Yultama Tigana, Koordinator Kelas sekaligus Subject Matter Expert LPP Agro Nusantara.
Puncaknya terjadi pada hari ketujuh, saat seluruh ilmu diuji langsung di tapak bumi.
Di hamparan sawah, para penyuluh mempraktikkan teknik irigasi hemat air Alternate Wetting and Drying (AWD), mengukur keasaman tanah, serta meracik dosis pupuk presisi menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).
Mereka juga jeli mengamati ekosistem, membedakan mana hama dan mana serangga predator yang menjadi sahabat petani.
Sementara di kebun kakao, aroma tanah basah mengiringi langkah peserta saat mempraktikkan pemangkasan ranting, mengatur naungan pohon, hingga mendiagnosis kesehatan tanaman secara langsung.
Langkah perubahan tak berhenti di sawah dan kebun.
Dari puluhan peserta, 30 sosok terbaik melaju ke tahap bimbingan teknis dan uji kompetensi skema Instruktur Terampil yang diuji langsung oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Di sini, mereka digembleng menyusun Rencana Penyajian Pelatihan Kerja (RPPK), mengasah cara berkomunikasi, dan merancang evaluasi pembelajaran.
Harapannya jelas: mereka akan kembali ke komunitasnya bukan lagi sebagai peserta, melainkan sebagai obor penerang yang mendampingi petani lokal menerapkan sistem tani ramah lingkungan.
Program FOLUR merupakan gagasan global yang didanai Global Environment Facility (GEF) di bawah koordinasi Kementerian Pertanian serta dukungan teknis FAO dan UNDP.
Program ini memfokuskan aksinya pada pemulihan lahan dan penguatan rantai pangan di lima wilayah Indonesia: Aceh Tengah, Mandailing Natal, Sanggau, Sorong, dan Luwu.
Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi Raharjo, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Kemenko Pangan, Bappenas, Kementan, hingga Kementerian Kehutanan ini.
"Ada tujuan strategis besar yang ingin dicapai melalui program ini, yaitu memperkuat sistem pangan, tata guna lahan, dan restorasi lahan melalui praktik pertanian berkelanjutan," tuturnya.
Melalui penguatan kapasitas penyuluh di Luwu, benih-benih pertanian berkelanjutan kini telah ditanam.
Dari tangan-tangan terampil inilah, masa depan pangan Indonesia yang hijau dan berkeadilan sedang dirajut.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja