KEBUMEN - Kesenjangan sosial dan ekonomi terkadang menjadi batu sandungan dalam akses layanan pendidikan. Jurang kemiskinan yang terlampau dalam juga acap kali mengubur mimpi generasi emas untuk menggapai masa depan lebih baik. Atas persoalan ini pemerintah kemudian hadir melalui program Sekolah Rakyat (SR).
Hal tersebut ditegaskan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kebumen Tri Puji Astuti. Ia mengatakan, sekolah rakyat dirancang untuk memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak dari keluarga kategori miskin ekstrem.
Sekolah ini hadir ditujukan agar kelompok masyarakat maginal tidak kehilangan hak dalam memperoleh pendidikan berkualitas secara gratis.
"Awal-awal kami di sini nangis. Lihat background ekonomi orang tua murid seperti itu," ungkapnya kepada Radar Jogja, Jumat (17/7/2026).
Tri menjabarkan, SR menjadi ruang pendidikan untuk memanusiakan manusia. Artinya bukan sekadar kebutuhan mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mengusung pendekatan pendidikan berbasis humanisme. Yakni, menempakan anak sebagai individu yang memiliki martabat dan hak yang sama untuk mengembangkan potensi diri.
"Di balik kekurangan, ada satu anak kami pintar menulis. Kemarin baru juara tingkat nasional," sebutnya.
Ia mengungkapkan, kemiskinan selama ini memang sebagai pemicu anak kehilangan kesempatan meraih pendidikan layak. Faktor keterbatasan biaya hingga kondisi lingkungan yang kurang mendukung membuat anak dari keluarga miskin berada dalam lingkaran ketertinggalan.
Oleh karena itu, pemerintah membawa solusi lewat model pemerataan pendidikan berkualitas yang dijabarkan melalui program sekolah rakyat.
"Sisi humanisme dan inklusif, itu yang ditonjolkan. Kami menempatkan mereka dengan kedudukan sama," katanya.
Saat ini, di SRT 44 Kebumen terdapat 100 murid yang terbagi menjadi murid SD dan SMP. Mereka berangkat dari keluarga yang tidak didukung stabilitas ekonomi mapan.
Baca Juga: Bek PSIM Jogja Yusaku Yamadera Ingin Merintis Bisnis Kuliner di Indonesia
Selain menyediakan layanan pendidikan, sekolah ini juga didukung berbagai fasilitas pendukung, termasuk asrama serta pemenuhan makan bergizi. Dengan demikian, sekolah rakyat diharapkan menjadi bagian layanan pendidikan berkeadilan.
"Kami bangun karakternya karena di asrama. Dari bangun sampai tidur ada jadwal," ungkapnya.
Sebelumnya, dalam rangkaian kunjungan ke SRT 44 Kebumen, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan, sekolah rakyat hadir untuk kelompok keluarga yang selama ini belum terbawa dalam proses arah pembangunan.
Yakni, menyasar keluarga yang belum terjangkau pemerintah. Dia menegaskan, SR sendiri menjadi ikhtiar negara untuk memuliakan 'Wong Cilik' dari sektor pendidikan.
Baca Juga: 20 Gunungan Hasil Panen Ikut Diarak pada Rasulan Wiladeng sebagai Wujud Syukur
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu mengatakan, di sekolah rakyat negara akan menjamin sekuruh kebutuhan dan fasilitas, baik siswa maupun guru.
Dalam perjalanannya setiap SR akan dilengkapi fasilitas asrama, laboratorium, ruang belajar, fasilitas olahraga hingga kebutuhan makan sepenuhnya akan dicukupi.
Tak hanya itu, dari sisi pengajar juga dipastikan memiliki kemampuan atau kompetensi memadai. "SR ini diperuntukkan untuk Invisible People. Ada di sekitar kita, tapi kita tidak melihat dan mungkin tidak ada dalam catatan," ucapnya. (fid/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita