Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wamenhut Dorong Kolaborasi Internasional Hadapi Tantangan Kehutanan Global

Bahana. • Selasa, 7 Juli 2026 | 11:33 WIB
Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, S.Hut
Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, S.Hut

Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Rohmat Marzuki, S.Hut., menegaskan bahwa kolaborasi internasional merupakan kunci dalam menjawab berbagai tantangan kehutanan global, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya tekanan terhadap sumber daya hutan.

Hal tersebut disampaikan saat membuka The 10th International Forestry Summer Course (FSC) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (7/7). Program bertema Forest for Life: Managing Ecosystem Services in a Changing Climate ini mempertemukan mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi dari 22 negara untuk berdiskusi dan belajar bersama mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Rohmat Marzuki mengapresiasi Fakultas Kehutanan UGM yang telah secara konsisten menyelenggarakan Forestry Summer Course selama satu dekade sebagai wadah pembelajaran dan kolaborasi internasional. Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini, ketika perubahan iklim, cuaca ekstrem, hilangnya keanekaragaman hayati, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan semakin nyata dirasakan di berbagai negara.

Ia menegaskan bahwa hutan merupakan salah satu solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang paling efektif dalam menghadapi perubahan iklim karena berfungsi menyerap karbon, mengatur tata air, melestarikan keanekaragaman hayati, serta menopang kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Gas Melon Bakal Diganti CNG, Kapan Mulai Beredar dan Apa Perbedaannya?

"Climate change knows no boundaries, and neither should our commitment to protecting forests," ujar Rohmat Marzuki.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Ir. Sigit Sunarta, S.Hut., M.P., M.Sc., Ph.D., IPU., menyampaikan bahwa paradigma pengelolaan hutan terus berkembang. Jika sebelumnya hutan lebih banyak dipandang sebagai penghasil kayu, kini hutan memiliki peran yang jauh lebih luas melalui berbagai jasa ekosistem, seperti pengaturan iklim (climate regulation), konservasi keanekaragaman hayati, perlindungan sumber daya air, serta kontribusinya terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

The 10th International Forestry Summer Course (FSC) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (7/7)
The 10th International Forestry Summer Course (FSC) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (7/7)

Menurutnya, Forestry Summer Course dirancang tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan ilmiah peserta, tetapi juga memperluas wawasan melalui pertukaran pengalaman dari berbagai negara dan disiplin ilmu.

"We hope participants will gain not only scientific knowledge, but also valuable perspectives from different countries and disciplines," ungkap Sigit Sunarta.

Ketua Forestry Summer Course 2026, Ir. Ni Putu Diana Mahayani, S.Hut., M.For., Ph.D., menambahkan bahwa penyelenggaraan tahun ini memperoleh dukungan melalui Hibah Inovasi dan Internasionalisasi Akademik melalui Kursus Singkat Bidang Unggulan Lintas Disiplin Skema EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition). Hibah tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Gadjah Mada untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat reputasi internasional melalui penyelenggaraan program akademik bertaraf global.

Menurutnya, dukungan hibah EQUITY memungkinkan Forestry Summer Course menghadirkan sekitar 40 mahasiswa internasional yang mengikuti kegiatan secara daring maupun luring dengan skema transfer kredit akademik. Peserta berasal dari berbagai negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika, termasuk Jepang, Singapura, Filipina, Bangladesh, India, Pakistan, Afghanistan, Yaman, Gambia, Sierra Leone, Nigeria, Tanzania, Rwanda, Maroko, Aljazair, Costa Rica, dan Indonesia.

Selain peserta internasional, program ini juga melibatkan 12 dosen internasional, 10 dosen Indonesia, serta sejumlah profesional dari berbagai institusi. Para pembicara berasal dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga terkemuka dunia, antara lain Universiti Malaysia Sabah (Malaysia), Kasetsart University, King Mongkut's University of Technology Thonburi, dan Chiang Mai University (Thailand), National Institute of Forest Science (Republik Korea), Kyushu University (Jepang), Central South University (Tiongkok), University of Hawaiʻi (Amerika Serikat), serta The Australian National University (Australia). Program ini juga didukung oleh akademisi dari UGM, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, serta para profesional dari berbagai lembaga di bidang kehutanan dan lingkungan.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Akhiri Kiprah di Piala Dunia dengan Kepala Tegak: Saya Sudah Memberikan Segalanya! 

Selama dua pekan pelaksanaan, peserta akan mengikuti kuliah dari akademisi dan praktisi internasional, diskusi kelompok, pembelajaran lapangan di Hutan Pendidikan Wanagama dan Taman Nasional Gunung Merapi, serta menyusun proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai perspektif mengenai konservasi keanekaragaman hayati, hidrologi hutan, agroforestri, jasa ekosistem, pasar karbon, restorasi ekosistem, hingga pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Melalui penyelenggaraan The 10th International Forestry Summer Course 2026, Fakultas Kehutanan UGM berharap dapat terus memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus meningkatkan atmosfer akademik melalui interaksi intensif antara mahasiswa, akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara. Program ini diharapkan tidak hanya memperluas kolaborasi pendidikan dan penelitian, tetapi juga memperkuat kontribusi UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta solusi global bagi pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

 

Editor : Bahana.
#kemenhut #UGM