JOGJA - Antusiasme para orang tua calon siswa mendaftarkan anaknya di SMPN 5 Jogja pada Senin (29/6/2026) cukup tinggi. Sebagian orang tua bahkan rela antre sejak subuh supaya bisa lebih dahulu melakukan verifikasi berkas.
Miftahul Huda, salah satu orang tua siswa mengungkapkan sejak subuh sudah banyak orang tua yang menunggu di gerbang sekolah. Padahal pendaftaran atau verifikasi berkas baru dilayani pukul 08.00.
Alasannya datang pagi-pagi tidak lain untuk mencari nomor antrian kecil. Meskipun sudah datang lebih awal, ia mendapatkan nomor antrean 33 dan harus menunggu selama kurang lebih lima jam untuk menyelesaikan proses verifikasi berkas.
“Dari pagi sudah ramai. Banyak yang sudah siap-siap sejak pukul 05.00. Karena pengalaman kakaknya juga antre sampai siang,” ujar Miftahul saat ditemui di sela pendaftaran.
Baca Juga: Stok Nasional Tembus 5,1 Juta Ton, Mentan Amran Tawarkan Ekspor 10 Ribu Ton Beras ke Singapura
Orang tua siswa asal Kemantren Kotagede ini sengaja memilih SMPN 5 Jogja demi menuruti keinginan anaknya. Anak ketiganya memiliki bekal nilai tes kemampuan akademik (TKA) sebesar 284. Sehingga yakin bisa diterima di sekolah berjuluk Pawitikra tersebut.
Selama menjalani proses pendaftaran sejak pagi hingga sekitar pukul 11.30, Miftahul mengaku tidak menghadapi kendala. Berbeda dengan SPMB tahun lalu ketika anak keduanya mendaftar di SMPN 8 Jogja, kala itu website resmi pendaftaran sempat mengalami gangguan server.
“Kalau sekarang lancar, tidak ada gangguan server down,” ungkap Miftahul.
Orang tua lain asal Kelurahan Kotabaru, Oda mengaku sudah menyiapkan berkas pendaftaran sejak pukul 04.45 dan tiba di SMPN 5 Jogja pada pukul 05.00. Dia pun optimistis anaknya bisa diterima dengan bekal nilai TKA 258.
Baca Juga: Warga Minta Dukuh Bayon Dicopot, Diduga Lakukan Penggelapan Sertifikat
“Nilainya juga lumayan tinggi, sehingga kami yakin saja,” terang Oda.
Berbeda dengan orang tua lain. Ririn Hendriani, salah satu orang tua calon siswa asal Kampung Pajeksan, Kemantren Gedongtengen justru datang sekitar pukul 10.00. Ririn yang datang agak siang ini mengaku terkejut dengan antusiasme pendaftar SMPN 5 Jogja yang membludak.
Namun dia tetap optimistis anaknya bisa diterima. Karena berdasar perhitungan nilai gabungan TKA dan rapor, anaknya memiliki peluang yang cukup kompetitif. Dia juga telah menyiapkan SMP Negeri 8 Jogja sebagai pilihan kedua jika memang tidak bisa diterima di SMPN 5 Jogja .
“Anak saya nilai bahasa Indonesia 100, IPA nya 90, Matematikanya 83. Kalau digabung (dengan nilai rapor) sekitar 280-an,” beber Ririn.
Berdasar pantauan, tahun ini SMPN 5 Jogja membuka lima loket pendaftaran. Antusiasme pendaftar membludak. Bahkan hampir memenuhi aula sekolah yang menjadi lokasi verifikasi berkas.
Kepala SMPN 5 Jogja Siti Arina Budiastuti menyatakan, pada SPMB tahun ini pihaknya memang mengambil kebijakan berbeda. Tahun lalu lokasi pendaftaran dipusatkan di halaman sekolah sisi selatan. Namun tahun ini dipindahkan ke aula sekolah yang berada di sisi utara untuk mempertimbangkan aspek kenyamanan bagi orang tua calon siswa.
Arina sapaannya mengungkapkan, pada hari pertama pelayanan verifikasi berkas untuk jalur domisili daerah dan jalur Keluarga Sasaran Jaminan Perlindungan Sosial (KSPJS) memang membludak. Antrian orang tua siswa mencapai sekitar 300 orang.
Sementara kuota untuk jalur domisili daerah sebayak 108 siswa dan KSJPS 48 siswa. Total kuota dua jalur tersebut hampir separuh dari kapasitas sekolah yang mencapai 320 siswa.
Menurutnya, para orang tua memilih datang sejak pagi buta untuk mengejar waktu pendaftaran. Sebab jika ada calon siswa yang memiliki nilai minimal sama, maka pihak sekolah akan menerima siswa yang melakukan verifikasi berkas terlebih dahulu.
Pada jalur domisili daerah tahun ini, Siti menyebut kompetisi nilai TKA sulit diprediksi. Namun berdasarkan data tahun lalu, nilai rata-rata TKA yang diterima di SMPN 5 Jogja berada di kisaran 250 atau masing-masing mata pelajaran memiliki nilai minimal 80.
“Untuk pelayanan (jalur domisili daerah dan KSPJS) kami buka sampai besok,” beber Arina. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin