JOGJA - Pada Kamis (25/6/2026) suasana Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Yogyakarta tampak berbeda. Kursi ruang kelas yang biasanya dipenuhi oleh para siswa justru diisi oleh para pria dewasa berbaju rapi. Mereka adalah para ayah yang menjalankan program Gemar (Gerakan Ayah Mengambil Rapor).
Dari banyaknya ayah di MAN 1 Yogyakarta, ada yang hanya duduk diam menunggu giliran anaknya dipanggil. Sebagian bercengkrama dengan ayah yang lain. Momen mengambil rapor bagi para ayah ternyata disikapi beragam. Ada bangga karena anaknya masuk rangking tapi ada juga yang tergesa-gesa (kesusu) karena harus melanjutkan pekerjaan.
Salah satu yang merasa bangga adalah Agung Baskoro. Ayah dari murid kelas 11D bernama Kinan Fatima ini sangat senang ketika mengambil rapor anaknya yang masuk rangking sepuluh besar. Perasaan tersebut jarang dia temui karena selama ini sibuk dengan berbagai rutinitas pekerjaan sebagai wiraswasta.
Agung tidak menampik, urusan bisnis memang sering kali membuatnya kurang memberi perhatian mendalam pada rutinitas sekolah anaknya. Namun pada momen Gemar kali ini, warga Kapanewon Mlati Kabupaten Sleman itu sudah berkomitmen meluangkan waktu melihat perkembangan akademik anaknya.
Baca Juga: Gempa Kembar Magnitudo 7,1 dan 7,5 Guncang Venezuela, Warga Berhamburan Selamatkan Diri
Kehadirannya di sekolah pun membawa refleksi mendalam mengenai pentingnya kedekatan emosional dan perhatian penuh dari seorang kepala keluarga. Terlebih pada masa depan pendidikan anak.
“Setelah ini saya akan bisa lebih baik komunikasi ke anak, kemudian juga lebih perhatian urusan sekolah anak,” ujar Agung ditemui seusai mengambil rapor.
Berbeda dengan Agung. Momen Gemar justru menjadi haru bagi Sulastriningsih, ibu dari murid bernama Raditya Hafidz Utomara ini justru tidak bisa mengikuti program Gemar karena sang kepala keluarga sudah dipanggil sang khalik. Suaminya direnggut virus Covid-19 tahun 2020 lalu.
Bagi Eni sapaannya, program Gemar memang terasa agak berbeda secara emosional. Namun dia bersyukur atas pemahaman dan empati yang ditunjukkan pihak madrasah terkait dengan kondisi keluarganya.
Baca Juga: Deniz Undav Mengaku Senang dengan Peran Barunya Sebagai Supersub Jerman di Piala Dunia 2026
“Jadi ya karena anak yatim, apa-apa sekarang harus ibu istilahnya,” jelas Guru SD Muhammadiyah Karangwaru ini dengan nada sedikit bergetar.
Selain perasaan bangga dan haru, sebagian orang tua ada yang terlihat cukup tergesa-gesa. Karena memang tidak dapat dipungkiri, momentum pengambilan rapor di hari kerja memang bersamaan dengan rutinitas pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban bagi sang ayah.
Salah satu ayah yang mengambilkan rapor anaknya bahkan tidak sempat diwawancarai dan menyampaikan identitasnya kepada Radar Jogja. Lantaran dia sudah sangat terburu-buru untuk menyelesaikan urusan pekerjaan.
“Mohon maaf mas mau kerja dan sudah ditunggu sekali ini, maaf belum bisa wawancara,” terang ayah tersebut. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin