PURWOREJO - Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah mengajak 100 pelajar di Purworejo untuk aktif mengasah kemampuan berliterasi. Mereka diminta fokus pada penguatan budaya baca serta bernalar kritis untuk mengubah krisis literasi yang masih terjadi di kalangan pelajar.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laili Sukmawati mengatakan, rendahnya kemampuan literasi di kalangan pelajar perlu menjadi perhatian serius. Oleh karena itu, butuh pendekatan secara komperehensif di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Baca Juga: Badai PHK Mengintai: Mengapa Job Hugging Bukan Tanda Putus Asa?
"Perlu ada pendampingan, kemudian ujungnya menjadi pembiasaan terkait literasi," katanya di sela Peningkatan Kompetensi Membaca Kritis bagi murid SMA/SMK yang berlangsung di SMAN 1 Purworejo, Kamis (11/6).
Dwi mengatakan, 100 pelajar yang hadir dalam kegiatan merupakan perwakilan dari 10 sekolah di Purworejo dengan nilai Asesmen Nasional (AN) kategori rendah. Mereka akan diberikan pemahaman secara menyeluruh tentang pentingnya berliterasi. Upaya ini juga sejalan dengan peningkayan kualitas pendidikan pada aspek literasi membaca.
Menurutnya, kemampuan literasi dan bernalar kritis menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter pelajar. Dengan upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan generasi unggul yang mampu menghadapi tantangan zaman.
Baca Juga: PT KAI Daop 6 Gunakan Peta Perencanaan Richtingskaart, Warga Blondo Sebut Tanah Negara
"Setelah acara ini kami harap berdampak positif dan berimbas ke siswa yang lain," ungkapnya.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menyampaikan, jika merujuk data cermin literasi Indonesia masih dibawah target. Dia menyebut ukuran kemampuan pelajar Indonesia menggunakan teks dalam konteks keihidupan nyata berada di skor 359.
Capaian ini masih jauh dengan rata-rata negara lain yang mencapai 476. Sedangkan berdasar data AN, rerata literasi nasional nilainya 62,17. Jumlah tersebut masih dibawah harapan RPJMN yang mengamanatkan 64,89. "Tentu ini jadi cermin supaya kita bisa berkaca, kira-kira kurang apa," ujarnya.
Dia juga sempat menyinggung hasil asesmen pelajar SMA nilainya 62,12. Angka ini turun dari tahun sebelumnya. Di satu sisi juga masih dibawah target nasional dengan nilai 64,89. Data lain menunjukkan uji kemahiran berbahasa Indonsia, jumlah prosentase pelajar SMK sesuai standar minimal baru 36 persen.
Artinya masih dibawah standar yang diharapkan. "Maka, hari ini Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah memberikan peguatan dan peningkatan literasi," ucapnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo