Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terdampak Zonasi, SDN Cacaban 1 Magelang Dulu Kelebihan Kuota, Kini Hanya Dapat 2 Siswa

Naila Nihayah • Selasa, 9 Juni 2026 | 05:06 WIB

 

SPMB di SD Negeri Cacaban 1 baru mendapat dua siswa.
SPMB di SD Negeri Cacaban 1 baru mendapat dua siswa.

 



 

 

 

 


MAGELANG – Belasan SD negeri di Kota Magelang mengalami kekurangan siswa pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026-2027. Dari total 59 SD negeri, sedikitnya 12 sekolah tercatat hanya menerima siswa baru di bawah 15 anak. Bahkan beberapa di antaranya baru memperoleh hitungan jari.

 

Guru di SD Negeri Cacaban 1, Poniati menyebut, dalam dua tahun terakhir jumlah siswa baru di sekolahnya terus menurun. Dua tahun sebelumnya, sekolah masih mendapatkan siswa sekitar 13 anak. "Tahun ini sampai sekarang baru dua anak yang masuk di sistem. Satu lainnya belum bisa masuk sistem," paparnya, Senin (8/6).

Padahal, menurut dia, sebelum sistem zonasi diberlakukan, sekolah tersebut pernah mengalami kelebihan siswa. Banyak murid dari luar wilayah yang mendaftar bahkan sebelum masa pendaftaran resmi dibuka.

Baca Juga: Mural Suporter PSIM Jogja soal Korupsi Mandala Krida Dihapus, Ada Pihak Tertentu Gerah; Endus Ada Intimidasi

"Dulu sebelum zonasi, siswa bisa sampai lebih dari kuota. Banyak yang dari luar daerah. Sekarang setelah zonasi, kebanyakan hanya dari sekitar sini," jelasnya.


Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho mengutarakan, dinas bakal memanggil kepala sekolah yang mengalami kekurangan siswa. Tujuannya untuk memetakan persoalan secara lebih rinci. "Data sementara ada 12 SD negeri yang siswanya di bawah 15," ujar dia di kantornya,

Menurutnya, regrouping menjadi satu opsi, terutama untuk sekolah-sekolah yang berada dalam satu kawasan namun jumlah siswanya tidak mencukupi. Skema ini tidak sekadar menggabungkan fisik sekolah, tetapi juga soal manajemen, guru, hingga efektivitas pembelajaran.

Baca Juga: KSPSI Dorong Polres Kebumen Bentuk Desk Ketenagakerjaan, Ini Tujuannya

Penggabungan sekolah, lanjut dia, bisa dilakukan dengan beberapa model. Mulai dari dua sekolah menjadi satu manajemen dengan satu kepala sekolah, hingga peleburan penuh menjadi satu entitas baru. Namun, tenaga pendidik tetap dipertahankan dan dioptimalkan.

Dia mencontohkan, pengalaman sebelumnya saat sejumlah SD di Kota Magelang digabung. Hasilnya justru menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran dan keterisian kelas.

Baca Juga: Hasil Audit Nyatakan Tak Ada Malapraktik, Keluarga Naura Masih Tunggu Penjelasan Medis dari RSUD Prambanan

"Dulu SD Negeri Magelang 1 dan 2 kekurangan siswa, lalu digabung dengan SD Magelang 6 dan 7. Sekarang justru masing-masing bisa membuka dua rombongan belajar dan berjalan baik," bebernya.

Meski begitu, tidak semua sekolah dengan lokasi berdekatan mengalami masalah serupa. Beberapa di antaranya justru tetap diminati masyarakat, seperti SD di kawasan Potrobangsan, Jurangombo, hingga Kedungsari yang mampu mempertahankan jumlah siswa. (aya/pra)

 

Editor : Heru Pratomo
#sdn cacaban #terdampak zonasi #Magelang #kekurangan siswa #spmb