Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah di Kalurahan Sinduadi, Mlati, Sleman: Tekan ATS, Perlu Kolaborasi Sejumlah Pemangku Kepentingan

Fahmi Fahriza • Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:56 WIB
KRUSIAL: Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Anton Prabu Semendawai mengatakan, program beasiswa menjadi instrumen perlindungan sosial. Itu dikemukakan saat sosialisasi di Balai Pedukuhan Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Jumat (29/5/2026). Foto fahmi fahreza
KRUSIAL: Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Anton Prabu Semendawai mengatakan, program beasiswa menjadi instrumen perlindungan sosial. Itu dikemukakan saat sosialisasi di Balai Pedukuhan Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Jumat (29/5/2026). Foto fahmi fahreza

JOGJA - Program beasiswa pendidikan menengah dinilai memiliki peran penting menjaga akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu. Sekaligus menekan angka anak tidak sekolah (ATS) di DIY.

"Itu menjadi satu hal krusial dalam pemberian beasiswa pendidikan menengah ini,” ucap Wakil Ketua Komisi D DPRD DIY Anton Prabu Semendawai saat Sosialisasi Beasiswa Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY di Balai Pedukuhan Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, Jumat (29/5/2026).

Dikatakan, bantuan pendidikan tidak hanya membantu keberlangsungan belajar bagi  siswa. Tapi juga instrumen perlindungan sosial memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan peluang kerja generasi muda di masa mendatang.

Baca Juga: Jaring Talenta Paduan Suara Tampil di Istana Merdeka, Disbud DIY Buka Audisi Gita Bahana Nusantara

Anton mengungkapkan, berdasarkan data hingga pertengahan Mei 2026, jumlah ATS di DIY masih mencapai 5.023 anak. Angka tersebut tersebar di Kabupaten Gunungkidul sebanyak 1.700 anak, Sleman 1.309 anak, Bantul  1.168 anak, dan Kabupaten  Kulon Progo sejumlah 566 anak, serta Kota Yogyakarta denan jumlah 280 anak.

Mantan wakil ketua DPRD DIY periode 2019-2024 ini menilai,  persoalan ATS dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari tekanan ekonomi keluarga, pernikahan dini, hingga rendahnya motivasi anak melanjutkan pendidikan.

"Angka anak tidak sekolah masih tinggi, termasuk di Sleman. Ini harus jadi evaluasi bersama," ujarnya. Berdasarkan data yang disampaikan Anton, ATS anak tidak sekolah di Sleman tertinggi kedua setelah Gunungkidul.

Baca Juga: Bahasa Inggris Masuk Kurikulum Sekolah Dasar, Disdikpora Kulon Progo Pastikan Sekolah Siap

Ditambahkan, sosialisasi program beasiswa pendidikan menengah itu perlu diperkuat. Sebab, belum seluruh masyarakat mengetahui skema bantuan pendidikan yang disediakan Pemda DIY.

Saat ini, program beasiswa pendidikan menengah mencakup tiga hal. Meliputi beasiswa Kartu Cerdas, beasiswa Retrieval bagi anak putus sekolah, dan beasiswa Jaminan Kelangsungan Pendidikan (JKP).

Penyaluran bantuan beasiswa harus mengacu pada data tunggal sosial ekonomi nasional (DTSEN). Terutama bagi masyarakat desil satu dan dua. Meski demikian, pelaksanaan di lapangan tetap perlu mempertimbangkan kondisi faktual penerima. Anton juga menyoroti kondisi ekonomi masyarakat yang dinilai semakin berat.

Baca Juga: Gotong Royong, Jalan Putus di Suruh Akhirnya Dicor Blok setelah Sembilan Tahun Menunggu Pasca-Badai Cempaka 2017

Tidak sedikit keluarga yang mengalami penurunan kemampuan ekonomi akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun penghasilan yang tidak stabil. "Banyak pekerja di DIY dengan kebutuhan banyak, dan tidak cukup punya tabungan dari gaji yang mereka dapatkan," ulasnya.

Dia menilai kolaborasi sejumlah pemangku kepentinganseperti pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, dan orang tua menjadi kunci menyelesaikan persoalan pendidikan di DIY.  Anton menegaskan, program beasiswa pendidikan menengah seharusnya tidak dikurangi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap bantuan pendidikan.

"Kami dorong kebutuhan beasiswa pendidikan menengah masih banyak dan harus ditambah anggarannya," tegasnya.

Selain persoalan siswa, Anton juga menyinggung besarnya kebutuhan tenaga pengajar di DIY. Dia berkomitmen menperjuangkan para guru-guru agar hak-haknya terus diberikan.  “Kebutuhan guru se-DIY mencapau 1.091 orang,"  katanya.

Baca Juga: Pemkot Jogja Usulkan Penataan Bantaran Code Jadi Percontohan Nasional, Butuh Rp 56 Miliar Bangun Jalan Inspeksi Sejauh Empat Kilometer

Di tempat sama, Staf Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Andiyanto Eko Saputro mengatakan, program beasiswa pendidikan menengah ini ditujukan untuk menjaga keberlangsungan pendidikan peserta didik dari keluarga kurang mampu. Juga meningkatkan angka partisipasi sekolah.

"Beasiswa ini untuk membantu anak-anak kita, apalagi jika dia berprestasi dan datang dari latarbelakang keluarga yang kurang mampu," jelasnya.

Pelaksanaan program beasiswa tersebut mengacu Peraturan Gubernur DIY Nomor 5 Tahun 2025 tentang Pedoman Pemberian Beasiswa Pendidikan. Regulasi ini ditetapkan sebagai acuan dan petunjuk teknis penyaluran bantuan beasiswa bagi peserta didik di wilayah DIY. 

Pengajuan bantuan dapat dilakukan melalui sekolah maupun langsung ke kantor Disdikpora DIY. Informasi mekanisme beasiswa telah disampaikan ke  SMA/SMK se-DIY. (iza/kus)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Kalurahan Sinduadi #perlindungan sosial #beasiswa pendidikan #sosialisasi #anak tidak sekolah