GUNUNGKIDUL - SD Bopkri Wonosari II mulai mengaktifkan penggunaan bahasa Inggris dalam interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah sebagai upaya melatih keberanian dan rasa percaya diri siswa berbicara bahasa asing sejak dini.
Program tersebut diterapkan melalui pembiasaan percakapan bahasa Inggris di kelas hingga penguatan ekstrakurikuler English Speaking Club pada tahun ajaran baru mendatang.
Kepala SD Bopkri Wonosari II Istining mengatakan, program penggunaan bahasa Inggris aktif tersebut menjadi salah satu inovasi baru di sekolahnya pada tahun ajaran baru mendatang. Sekolah ingin membangun keberanian siswa untuk berbicara, bukan sekadar memahami teori dan mengerjakan soal tertulis.
“Program baru kami untuk tahun ajaran baru ini mengaktifkan bahasa Inggris secara aktif. Jadi nanti anak-anak harus terbiasa, begitu juga dengan guru,” ujar Istining sesuai mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris pada kelas VI, Jumat (22/5/2026).
Dia menjelaskan, kemampuan tulis bahasa Inggris siswa sebenarnya cukup baik. Bahkan, nilai tes bahasa Inggris rata-rata tinggi. Namun, banyak siswa masih malu berbicara menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. “Selama ini bahasa Inggris anak-anak bagus secara tertulis saja. Tapi kalau suruh ngomong sebenarnya mereka bisa, hanya malu,” katanya.
Karena itu, dia terus berupaya meningkatkan rasa percaya diri siswa melalui pembiasaan sederhana di lingkungan sekolah. Salah satunya dengan mewajibkan siswa berinteraksi menggunakan bahasa Inggris ketika guru masuk kelas.
“Saya sering memulainya ketika masuk kelas. Anak-anak harus memberi saya pertanyaan dengan bahasa Inggris. Ketika mereka bertanya, saya juga memberi pertanyaan dan mereka mau tidak mau harus menjawab dengan bahasa Inggris,” ungkapnya kepada wartawan.
Untuk menunjang program tersebut, sekolah juga mengaktifkan ekstrakurikuler English Speaking Club. Kegiatan itu difokuskan khusus pada kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa SD Bopkri Wonosari II. Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri anak untuk berbicara dalam bahasa Inggris.
“Kedua mengajak anak-anak untuk tidak mengejek temannya ketika berbicara bahasa Inggris,” jelasnya.
Ia mengakui budaya malu dan takut salah masih menjadi tantangan utama bagi siswa Indonesia saat belajar bahasa asing. Tidak sedikit siswa yang enggan berbicara karena takut diejek teman sekelas. Istining bercerita, biasanya jika ada siswa berbicara menggunakan bahasa Inggris siswa lainya menanggapi dengan guyonan “wah ada bule”.
“Nah, budaya itu yang kami ubah. Anak-anak harus berani dulu, jangan takut salah,” terangnya.
Menurutnya, pembiasaan bahasa Inggris sejak jenjang sekolah dasar menjadi pondasi penting bagi siswa untuk menghadapi pendidikan di tingkat berikutnya. Karena itu, pengenalan bahasa Inggris sudah dilakukan sejak kelas I SD dengan metode sederhana dan menyenangkan.
“Anak-anak sejak kelas satu sudah dikenalkan bahasa Inggris dasar. Mulai kosakata, melengkapi to be, penggunaan is atau are. Metodenya paling dasar menggunakan gambar supaya mudah dipahami,” sambungnya.
Ia menilai antusiasme siswa cukup tinggi. Hanya, siswa membutuhkan ruang untuk terus berlatih dan mendapatkan apresiasi. Karena itu, sekolah juga menyediakan panggung-panggung ekspresi bagi siswa untuk tampil menggunakan bahasa Inggris.
“Kami memberikan ruang apresiatif berupa panggung untuk anak-anak menampilkan sesuatu dengan pengucapan bahasa Inggris. Kalau dibiasakan terus, lama-lama mereka akan merasa mudah dan percaya diri,” tambahnya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita