Kepala SMP MPlus Gunungpring Efi Nurul Utami menyebut, konsep pendidikan di sekolahnya dirancang menyeluruh dengan menggabungkan kurikulum nasional dengan nilai-nilai keislaman serta pengembangan bakat minat siswa.
Sistem pembelajaran di SMP MPlus menggunakan pola full day school, dimulai pukul 06.30 hingga 15.30. Waktu belajar yang panjang ini diisi dengan berbagai aktivitas terstruktur, tidak hanya pelajaran di kelas, tetapi juga pembiasaan harian.
Setiap Selasa, siswa mengikuti kegiatan khitobah atau latihan pidato atau kultum singkat selama tujuh menit di hadapan teman-teman mereka.
Baca Juga: Tanpa Beban di SSA Bantul, PSIM Jogja Berpeluang Jadi Penentu Nasib Madura United dalam Klasemen
Sementara itu, pada Rabu hingga Jumat, siswa menjalani program tahfiz. Setiap pagi, mereka menyetorkan hafalan dengan target minimal tujuh surah saat lulus.
Dia menjelaskan, yang menjadi kekuatan utama SMP MPlus adalah ruang eksplorasi bakat yang luas. Sekolah menyediakan 15 Kelas Talenta, mulai dari robotik, coding, olimpiade, hingga tata boga.
Melalui skema ini, siswa diarahkan untuk menemukan dan mengembangkan potensi masing-masing. "Prinsip kami, tidak ada siswa yang bodoh. Semua punya keistimewaan. Tugas sekolah adalah menemukan dan mengembangkannya," tegas Efi.
Untuk memastikan hal itu, proses seleksi siswa baru dilakukan cukup ketat, meliputi tes akademik, psikotes, dan wawancara. Dari hasil tersebut, sekolah memetakan minat dan bakat siswa sejak awal.
Di bidang akademik, sekolah ini juga menunjukkan performa kuat. Berdasarkan nilai ujian nasional terakhir, SMP MPlus berada di peringkat 13 tingkat provinsi, peringkat pertama untuk sekolah swasta di tingkat kota, serta masuk tiga besar secara keseluruhan.
Satu inovasi menarik yang dikembangkan adalah ujian praktik berbasis riset, yang disebut Jejak Belajarku. Dalam model ini, siswa kelas IX mempresentasikan hasil penelitian yang telah mereka lakukan sejak kelas VII atau VIII.
Efi menyebut, formatnya menyerupai sidang skripsi di perguruan tinggi. Siswa menyusun laporan menggunakan metode STAR, membuat presentasi, dan memaparkan hasilnya di hadapan sekitar 10 guru penguji, bahkan disaksikan orang tua.
Program ini merupakan bagian dari target jangka panjang sekolah dalam membangun budaya riset di kalangan siswa.
Selain itu, sekolah ini juga memiliki program student exchange yang telah berjalan sejak 2014. Program ini dilaksanakan dua tahun sekali dan bersifat opsional.
Baca Juga: Ubur-Ubur Jenis Impes Mulai Muncul di Pantai Gunungkidul, Tiga Wisatawan Anak-Anak Tersengat
Meski memiliki banyak program unggulan, SMP MPlus tidak lepas dari tantangan. Salah satu yang terbesar adalah pengaruh dunia digital terhadap karakter siswa.