MAGELANG - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang melarang pelaksanaan kegiatan halalbihalal pada hari pertama masuk sekolah usai libur Lebaran.
Kepala Disdikbud Kota Magelang Nurwiyono Slamet Nugroho menegaskan, hari pertama masuk sekolah harus difokuskan sepenuhnya untuk kegiatan belajar mengajar.
Kebijakan tersebut, kata dia, sejalan dengan surat edaran dari Kemendikdasmen yang menetapkan siswa kembali masuk sekolah pada 30 Maret 2026. Sementara itu, guru dan tenaga kependidikan telah lebih dahulu masuk sejak Rabu (25/3) untuk mempersiapkan kegiatan belajar pascalibur panjang Lebaran.
Meski melarang kegiatan halalbihalal di hari pertama masuk sekolah, disdikbud tetap memberikan toleransi bagi sekolah yang ingin menggelar kegiatan tersebut sebelum siswa kembali masuk. Kegiatan halalbihalal dilaksanakan pada rentang 25 hingga 28 Maret 2026, saat siswa masih dalam masa libur.
"Kami memberi ruang untuk halalbihalal, tapi dilakukan sebelum tanggal 30. Itu bisa dimanfaatkan untuk pembinaan, peningkatan kompetensi, atau kegiatan religius," ujarnya.
Dia menambahkan, beberapa sekolah sempat mengajukan izin untuk menggelar halalbihalal pada hari pertama sekolah, namun permohonan tersebut ditolak. "Ada yang mengajukan ingin halalbihalal di tanggal 30 sambil memulangkan siswa lebih awal, itu tidak kami izinkan," imbuhnya.
Mulai hari pertama masuk, lanjut Nurwiyono, seluruh kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan normal seperti sebelum Ramadan. Jam masuk sekolah dimulai pukul 06.30, diawali dengan kegiatan pendidikan karakter, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran sesuai kurikulum masing-masing jenjang.
Durasi jam pelajaran juga kembali normal, tidak lagi dipersingkat seperti saat bulan puasa. "Semua kembali normal, baik jam masuk, durasi pelajaran, maupun waktu pulang," kata Nurwiyono.
Terkait potensi keterlambatan siswa akibat penyesuaian pasca libur panjang, disdikbud menyerahkan penanganannya kepada masing-masing sekolah sesuai regulasi yang berlaku. Pendekatan yang dilakukan bersifat bertahap, mulai dari pembinaan hingga teguran, jika ditemukan siswa yang terlambat atau belum siap mengikuti kegiatan belajar.
Namun, dia meyakini, sebagian besar siswa telah siap kembali ke sekolah. "Biasanya anak-anak justru ingin kembali ke sekolah setelah libur panjang, ingin bertemu teman dan belajar lagi," lontarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menegaskan bahwa tidak ada kebijakan pembelajaran dari rumah atau daring meskipun sempat muncul wacana terkait efisiensi anggaran dan penghematan energi.
Menurut Nurwiyono, pembelajaran tatap muka tetap menjadi pilihan utama karena dinilai lebih efektif, terutama dalam penanaman karakter siswa. "Kami tetap mendukung pembelajaran tatap muka penuh. Itu jauh lebih efektif dibandingkan daring," paparnya.
Dia menekankan, keberhasilan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga melibatkan keluarga dan masyarakat. Dengan dimulainya kembali pembelajaran secara normal, dia berharap, seluruh pihak dapat bersama-sama mendukung proses pendidikan agar berjalan optimal. (aya)