Rektor UGM Prof Ova Emilia mengatakan FK-KMK UGM telah banyak mengukir prestasi baik di lingkup universitas, nasional, bahkan internasional.
Selama 80 tahun lamanya FK-KMK berkontribusi dalam pembangunan kualitas pendidikan kedokteran di Indonesia.
"Apa yang menjadi tumpuan harapan itu digenggam oleh generasi-generasi yang akan datang dan di situlah harapan dari pengembangan institusi FK-KMK dan UGM berada," ujarnya saat membacakan sambutan dalam acara Peringatan Dies Natalis FK-KMK UGM ke-80 di Auditorium FK-KMK UGM, Kamis (5/3).
Ia mengibaratkan perjalanan panjang FK-KMK UGM seperti pohon bambu yang memiliki akar kokoh dengan batang yang tidak akan patah oleh badai. Pergerakannya dinamis menyesuaikan angin.
"Pohon bambu juga memiliki akar kokoh yang menghujam dan mampu membuatnya tetap berdiri tegak saat badai berlalu," bebernya.
Tren perkembangan penyakit, teknologi, digitalisasi, kecerdasan buatan, krisis geopolitik global, hingga perubahan kondisi sosial ekonomi memicu perubahan lanskap pelayanan kesehatan nasional.Di usianya ke 80 tahun, FK-KMK diharapkan bisa menjadi jawaban atas keresahan dan mengikuti kebutuhan zaman.
"Kami percaya bahwa resiliensi, adaptasi, dan agility menjadi kata kunci untuk membuat inovasi dan lompatan baru agar terus bertahan di tengah badai tekanan krisis dan tantangan perubahan zaman," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dekan FK-KMK UGM Prof Yodi Mahendradhata menyampaikan segudang pencapaian yang telah dilakukan.
Salah satunya meluncurkan Breast Cancer Initiative yang merupakan bagian dari penetapan Kota Jogja sebagai Horizon City pertama di Indonesia.
Yogyakarta Breast Cancer Initiative ini diharapkan menjadi model implementasi layanan kanker yang efektif dan berkelanjutan.
"Model yang menghubungkan antara kebijakan nasional, bukti ilmiah, dan praktik layanan yang terbaik dalam satu gerakan kolaborasi," ujarnya.
Banyaknya riset dan inovasi yang dilaksanakan FKKMK UGM juga jadi faktor diberikannya status Horizon City pertama di Indonesia kepada Jogja. Salah satu riset dan inovasi yang berhasil yakni penanggulangan kanker.
"Salah satu contohnya adalah inisiatif CommuniCated dan komunitas TATAP," imbuhnya.
Proyek tersebut berfokus pada penguatan dukungan sosial bagi pasien kanker payudara dan keluarganya melalui edukasi kader serta pendekatan berbasis komunitas.
Selain berbasis komunitas, riset dan inovasi yang dilakukan juga memperkuat layanan bagi pasien kanker di fasilitas kesehatan.
"Misalnya melalui proyek NAPAK (Navigator Pasien Kanker)," paparnya.
FK-KMK UGM juga aktif menyalurkan tenaga medis ke daerah terdampak bencana se-Indonesia. Misalnya, banjir bandang di Aceh Utara, tim yang diterjunkan membantu untuk memulihkan kembali operasional rumah sakit.
Kemudian, menginisiasi Health Emergency Operating Center di Dinas Kesehatan Aceh Utara, memperkuat sanitasi, pengelolaan sampah, menyerahkan logistik medis, melatih penggunaan gas medis, dan sebagainya.
"Jejak panjang kontribusi FKKMK UGM dalam tanggap bencana sejak tsunami Aceh, gempa Jogja, gempa Padang, erupsi Merapi, gempa Palu, hingga gempa Cianjur," jelasnya.
Pihaknya juga menginformasikan.capaian akselerasi peningkatan jumlah doktor di FK-KMK. Tahun 2021 fakultas tersebut punya 272 doktor, tahun 2025 meningkat menjadi 340 doktor.
"Peningkatan dari 47% menjadi 51% di tahun 2025.Kita juga bersyukur FKKMK berhasil mengakselerasi peningkatan proporsi guru besar dari 8,1% di tahun 2021 menjadi 9,47% di tahun 2025," tegasnya. (oso)