Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SDN Grogol Bambanglipuro Tanamkan Edukasi Lingkungan Sejak Dini Lewat Pengelolaan Sampah Biopori

Cintia Yuliani • Minggu, 4 Januari 2026 | 09:05 WIB
BERGERAK: Guru olahraga SDN Grogol Badri Saronto sedang memantau lubang biopori yang ada di halaman sekolah Jumat (2/1). Sekolah ini mulai mengelola sampah mandiri.
BERGERAK: Guru olahraga SDN Grogol Badri Saronto sedang memantau lubang biopori yang ada di halaman sekolah Jumat (2/1). Sekolah ini mulai mengelola sampah mandiri.

BANTUL - SD Negeri (SDN) Grogol, Kapanewon Bambanglipuro, memilih mengelola sampah secara mandiri melalui pemilahan dan pembuatan lubang biopori untuk menekan volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan. Sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kepada siswa.

Inisiatif pengelolaan sampah tersebut digagas oleh guru olahraga SDN Grogol Badri Saronto yang sekaligus menjadi penggerak utama pembuatan lubang biopori di sekolah tersebut. 

Menurutnya, biopori dipilih sebagai solusi pengelolaan sampah sekaligus upaya membantu pemerintah dalam mengurangi beban tempat TPA Piyungan.

 “Kadang kita habis mengeluarkan anggaran hanya untuk membuang sampah. Kita berlangganan dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul setiap bulan sekitar Rp 350 ribu,” katanya saat ditemui di SDN Grogrol Jumat (2/1).

Dalam praktiknya, sampah organik dikelola sendiri lewat lubang biopori. Sementara sampah non organik dipilah dan disetorkan ke Bank Sampah Desa untuk dijual.

 “Hasilnya kita dapat pemasukan. Uang itu bisa untuk menambah fasilitas sekolah atau membayar sisa sampah yang tetap harus dibuang ke DLH. Yang dulunya Rp 350 ribu, sekarang bisa turun jadi sekitar Rp 150 ribu per bulan,” ujarnya.

 Pengelolaan sampah ini juga menjadi sarana edukasi bagi siswa. Anak-anak diajarkan memilah sampah sejak dari kelas, dengan penyediaan tempat sampah khusus di sudut-sudut sekolah. 

 “Yang jelas ini untuk edukasi anak-anak agar dari kecil sudah bisa belajar memilah sampah. Sampah organik kita manfaatkan jadi pupuk untuk tanaman di sekitar sekolah,” jelasnya.

Saat ini, SDN Grogol telah memiliki dua lubang biopori berdiameter sekitar 60 sentimeter dengan kedalaman satu meter. Meski jumlahnya masih terbatas, Badri menilai biopori tersebut sudah cukup membantu mengurangi volume sampah dan memberi manfaat lingkungan.

 “Kalau hasilnya memang masih kecil karena baru dua lubang. Tapi menurut saya sudah membantu. Dulu pengangkutan sampah sebulan sekali itu bisa sampai 4 sampai 5 ton sekarang paling 2 ton,” ungkapnya.

 Selain pengelolaan sampah, biopori juga berfungsi sebagai upaya mitigasi banjir. Terlebih, melihat lokasi sekolah lebih rendah dari jalan sehingga kerap menjadi langganan genangan air saat hujan.

 “Supaya air hujan bisa kembali meresap ke tanah dan menjaga kualitas air serta tanah,” tambahnya.

 Adapun, pembuatan biopori di sekolah telah berjalan sekitar enam hingga tujuh bulan terakhir. Meski diakui belum memiliki payung hukum anggaran khusus, pihak sekolah memanfaatkan hasil penjualan sampah plastik botol untuk membeli kebutuhan pembuatan biopori.

 “Ke depan kita ingin tambah lagi, minimal satu tahun bisa tiga lubang,” sambungnya.

 Badri menegaskan, pembuatan biopori di SDN Grogol tidak dilatarbelakangi oleh surat edaran kewajiban ASN membuat biopori. Menurutnya, langkah tersebut justru dilakukan lebih awal. 

 Ia menilai biopori merupakan cara paling tepat dalam mengelola sampah organik karena mengembalikan ke alam. Dengan begitu, air hujan dapat terserap ke tanah dan tidak langsung terbuang, sehingga dapat mencegah kerusakan lingkungan dan banjir. (cin/wia) 

 

Editor : Herpri Kartun
#dinas lingkungan hidup #bank sampah #biopori #SDN Grogol #TPA Piyungan