GUNUNGKIDUL – Namanya memang sekolah rakyat. Tapi praktiknya berbeda dengan sekolah rakyat yang didirikan pemerintah. Karena Sekolah Rakyat Karya Makmur Ketonggo yang berlangsung di Padukuhan Ketonggo, Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul ini dilangsungkan di balai dusun.
Pengelola Perpustakaan Sumber Ilmu, Samidi menyebut, pendidikan nonformal berbasis komunitas hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ruang literasi bagi anak-anak, remaja, hingga masyarakat umum.
Setiap akhir pekan, kata dia, balai padukuhan disulap menjadi ruang belajar terbuka tempat warga membaca bersama, mengikuti dongeng, hingga belajar berbagai keterampilan sederhana.
Sekolah Rakyat besutannya itu lahir dari semangat gotong royong warga yang ingin menghadirkan akses belajar yang mudah dijangkau. Hasil kolaborasi komunitas Karya Makmur Ketonggo dan Perpustakaan Sumber Ilmu.
“Sekolah Rakyat ini membuktikan bahwa semangat belajar bisa tumbuh dari desa. Melalui kolaborasi ini, literasi tidak hanya menjadi kegiatan membaca, tetapi juga budaya belajar yang mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Selasa, (11/11).
Perpustakaan Sumber Ilmu berperan sebagai mitra utama dalam penyediaan bahan bacaan, fasilitas membaca, dan pendampingan literasi. Kehadiran relawan yang rutin mendongeng dan mendampingi kegiatan kreatif menambah warna dalam proses belajar masyarakat.
Tak sekadar menghidupkan budaya membaca, Samidi menyebut Sekolah Rakyat ala warga desa ini turut menumbuhkan kreativitas, rasa percaya diri, dan kepedulian sosial peserta.
“Anak-anak dan remaja diajak belajar dengan metode yang menyenangkan, jauh dari tekanan, namun tetap memberi dampak pada perkembangan pengetahuan dan karakter,” imbuhnya.
Sementara itu, penggerak pemuda Ketonggo Rifki Ariyansyah menilai, Sekolah Rakyat menjadi contoh pemberdayaan warga oleh warga.
Menurutnya, Sekolah Rakyat Karya Makmur Ketonggo berkembang menjadi simbol bahwa pendidikan tidak harus bergantung pada ruang kelas formal.
Di balai dusun yang sederhana, kata dia, masyarakat membuktikan bahwabelajar adalah hak yang dapat tumbuh kapan saja, dari mana saja, dan oleh siapa saja.
“Kegiatan ini bermanfaat, warga memberdayakan warga. Semua bergerak bersama untuk kemajuan pendidikan di desa,” ungkapnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo