GUNUNGKIDUL – Inflasi bukan lagi isu rumit. Kini, para siswa SMA di Gunungkidul mulai diajak memahami pentingnya stabilitas harga dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, mengajak para guru dan pelajar untuk peduli terhadap inflasi sebagai bagian dari literasi ekonomi sejak dini.
Dengan kesadaran sejak usia sekolah, masyarakat akan lebih memahami harga-harga memengaruhi kehidupan sehari-hari. “Generasi muda bisa menjadi agen perubahan di tengah keluarganya,” ujar Joko, Jumat (19/9).
Dalam arahannya, Joko menekankan bahwa siswa punya peran besar dalam menyebarkan pemahaman tentang inflasi kepada lingkungan sekitar. Di tengah tantangan ekonomi global, membekali pelajar dengan literasi ekonomi dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
Karena inflasi bukan sekadar urusan pemerintah atau pelaku usaha. “Siswa juga harus tahu dampaknya dan bagaimana berperilaku bijak dalam konsumsi,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa standar inflasi internasional berada di kisaran 0–3 persen. Jika melampaui 5 persen, maka stabilitas ekonomi masyarakat bisa terguncang.
Karena itu, Pemkab Gunungkidul secara rutin mengikuti rapat koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri, mengadopsi strategi 4K: Kelancaran komunikasi, Ketersediaan barang, Keterjangkauan harga, dan Kelancaran distribusi.
“Alhamdulillah, inflasi di Gunungkidul selalu terkendali di bawah tiga persen. Ini berkat kerja sama semua pihak, termasuk potensi pelajar sebagai agen perubahan,” imbuh Joko.
Ditemui di Pemkab Gunungkidul, Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setprov DIJ, Eling Priswanto, mengingatkan bahwa inflasi adalah indikator penting dalam pembangunan ekonomi.
Menurutnya, pemahaman siswa tentang inflasi akan berdampak luas, tidak hanya untuk masa depan mereka sendiri, tetapi juga bagi kesejahteraan keluarga.
“Pertumbuhan ekonomi tinggi akan sia-sia jika inflasi juga tinggi. Maka, pendidikan ekonomi sejak sekolah sangat penting,” ungkap Eling. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo