Kedua guru tersebut diketahui telah berperan besar merintis program sejak 2017.
Berkat program ini, sekolah yang berada di pucuk bukit Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, yang sempat hampir ditutup, justru bangkit kembali dan mampu menarik banyak siswa, termasuk dari luar desa.
“Program literasi sekolah bukan sekadar tambahan, tapi sudah menjadi ruh pendidikan di SD kami," Ungkap salah satu wali murid Rhodiah Safitri saat ditemui di Dikpora Bantul, Kamis (21/8).
Kehadiran dua guru pelopor kata dia, sangat menentukan keberlangsungan kegiatan yang sedang berkembang.
Ia dan wali murid lainnya khawatir mutasi mendadak ini akan melemahkan kepercayaan masyarakat.
Program literasi di SDN Banyuripan telah melahirkan berbagai kegiatan unggulan, seperti sastrawan masuk sekolah, seniman masuk sekolah, workshop menulis guru hingga menghasilkan buku, serta menghadirkan penulis-penulis ternama seperti Oka Madasari.
Bahkan, sekolah pernah tampil di Jakarta dalam acara Sastra Masuk Kurikulum di hadapan Menteri Pendidikan.
Berbagai pencapaian itu membuat banyak orang tua tertarik menyekolahkan anak mereka ke SDN Banyuripan.
“Kami masuk ke sekolah ini bukan sekadar karena statusnya negeri, tapi karena program literasi yang nyata dirasakan manfaatnya bagi anak-anak,” jelas Rhodiah.
Menurut keterangan yang diterima wali murid, dua guru pelopor digantikan oleh guru P3K yang baru ditempatkan awal Juli.
Pergantian tersebut dilakukan mendadak tanpa jeda waktu, sementara SK penempatan guru sebelumnya belum turun.
“Kami merasa ini tidak transparan, karena tidak ada pemberitahuan kepada wali murid. Padahal program unggulan sekolah sedang berada di jalur berkembang,” tambahnya.
Komite dan wali murid menilai mutasi tersebut bertentangan dengan beberapa aturan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN Pasal 73 tentang mutasi harus memperhatikan kompetensi, kualifikasi, pola karier, dan kebutuhan instansi serta dilakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
PP No. 11 Tahun 2017 jo. PP No. 17 Tahun 2020 Pasal 190-191 mutasi dilaksanakan untuk mendukung pengembangan PNS dan pelayanan publik, dengan memperhatikan kualifikasi, kompetensi, penilaian kinerja, serta kebutuhan organisasi.
Pihaknya juga menilai mutasi mendadak berpotensi menghambat jalannya program literasi, menurunkan kualitas pembelajaran, serta mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
Harapannya Dikpora Bantul memberikan kesempatan kepada guru pelopor menyelesaikan program literasi yang sedang berjalan, menempatkan guru P3K di sekolah yang memang membutuhkan, dan mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi peserta didik.
Menurutnya SDN Banyuripan saat ini sudah menjadi aset pendidikan yang diminati bukan hanya warga desa, tetapi juga dari luar. Kehadiran guru pelopor masih sangat dibutuhkan.
"Kalau sekolah lain ingin mengembangkan program serupa, kami terbuka untuk belajar bersama, bukan dengan cara melepas guru yang sudah terbukti membawa perubahan,” tegasnya.
Kepala sekolah SDN Banyuripan Hery Purnomo menyatakan, dirinya tetap mengikuti arahan atasan terkait kebijakan mutasi. Namun, ia memahami keresahan wali murid.
“Kalau sebagai kepala sekolah, saya manut pada dinas. Tetapi kalau ada wali murid yang beraspirasi, saya dampingi," tuturnya.
Menurutnya program literasi ini sudah ada sejak 2017 dan sudah cukup terkondisikan. Mengenai mutasi dua guru tersebut ia juga baru tahu akhir-akhir ini. (cin)
Editor : Bahana.