Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belajar Lindungi Anak dari Jaringan Terorisme di Yayasan Literasi Desa Tumbuh , Pahami Isu Global yang Dihubungkan dengan Isu Lokal

Heru Pratomo • Rabu, 13 Agustus 2025 | 00:30 WIB

Photo
Photo




SLEMAN - Mencegah ekstremisme pada anak bisa dilakukan sejak dini. Sepeti yang dilakukan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten bersama UNICEF Indonesia melakukan kunjungan pembelajaran ke Yayasan Literasi Desa Tumbuh yang berlokasi di Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Mereka menyerukan kepedulian terhadap isu perlindungan anak dari pengaruh jaringan terorisme mendorong

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, yakni pada 5–7 Agustus 2025, mengusung tema “Penguatan Sistem Perlindungan Anak untuk Reintegrasi dan Rehabilitasi Anak dalam Jaringan Terorisme.”

Kegiatan dibuka dengan pemaparan dari Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Literasi Desa Tumbuh sekaligus akademisi dan praktisi yang telah lama bergiat dalam isu pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan.

Dalam paparannya, ia menjelaskan sejarah dan dinamika kelompok radikal di Indonesia melalui pendekatan yang membumi dan reflektif.

“Kita harus memahami isu-isu global yang kemudian terhubung dengan isu lokal, yang pada akhirnya memicu munculnya ekstremisme berbasis kekerasan. Pemahaman ini penting agar kita dapat menyesuaikan strategi pencegahan ekstremisme secara praktis,” ujar Noor Huda Ismail.

Usai pemaparan, peserta diajak menyaksikan film dokumenter berjudul Road to Resilience, karya dari Kreasi Prasasti Perdamaian. Film ini mengangkat kisah nyata perjalanan seorang anak muda Indonesia ke Suriah dan memantik refleksi mendalam di kalangan peserta.

Baca Juga: Program Cek Kesehatan Gratis di Sekolah, Bukti Nyata Perhatian Pada Pendidikan Anak Bangsa

“Film ini mengubah cara pandang saya tentang siapa yang pergi ke Suriah. Dahulu saya membayangkan mereka selalu berjenggot, berjidat hitam, dan bergamis. Namun setelah melihat sosok Mas Febri, ternyata sangat berbeda,” ungkap Hidayatus Sholihah, pengurus LPA Klaten.

Peserta juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan Febri, narasumber utama dalam film tersebut. Febri menceritakan bahwa keputusannya untuk pergi ke Suriah dilatar belakangi oleh kerinduan terhadap ibunya, bukan semata-mata karena dorongan ideologis untuk berjihad. Kisah ini memberikan sudut pandang baru dalam memahami motif individu yang terlibat dalam jaringan ekstremisme.

Pada hari kedua, tim dari Literasi Desa Tumbuh dan Kreasi Prasasti Perdamaian berbagi pengalaman mengenai strategi membangun narasi damai melalui media daring dan luring, serta pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pendekatan (pentahelix).

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Rayakan HUT RI Ke-80 Dengan Program Spesial ‘Pesta Merdeka’

“Selama berada di Literasi Desa Tumbuh, kami menemukan contoh ideal tentang bagaimana membentuk ruang bersama dan menarasikan isu-isu sensitif secara humanis sehingga dapat diterima oleh masyarakat,” ujar Naning Julianingsih, Spesialis Perlindungan Anak dari UNICEF Indonesia.

Malam harinya, peserta menikmati pementasan tari dan musik angklung yang dibawakan oleh anak-anak Komunitas Aksara Tari dan Gema Literasi. Pertunjukan ini mencerminkan semangat dan potensi lokal yang turut berkontribusi dalam proses reintegrasi anak melalui pendekatan budaya. Peserta pun diberi kesempatan untuk belajar memainkan angklung bersama anak-anak Komunitas Aksara Tari dan Gema Literasi.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal dari kolaborasi berkelanjutan dalam merancang sistem perlindungan anak yang lebih inklusif, adaptif, dan berperspektif damai, demi menciptakan masa depan yang lebih aman dan manusiawi bagi seluruh anak Indonesia. ((Aditya Putra))

Editor : Heru Pratomo
#tumbuh #terorisme #yayasan #Moyudan Sleman