Para siswa itu dinyatakan tidak memenuhi syarat karena tidak memiliki surat keterangan resmi yang membuktikan bahwa mereka berasal dari keluarga miskin.
Dua sekolah yang turut terdampak dari kebijakan ini adalah SMAN 3 Jogjakarta dan juga SMAN 6 Jogjakarta.
Ketua Panitia SPMB SMAN 3 Jogja Ichwan Aryono menyampaikan, bahwa terdapat satu pendaftar afirmasi di sekolahnya yang turut didiskualifikasi.
Pendaftar tersebut hingga kini belum juga datang ke sekolah untuk melakukan daftar ulang atau menunjukkan bukti pendukung afirmasi.
"Kami tunggu sampai proses daftar ulang ditutup. Jika yang bersangkutan datang dan bisa membuktikan diri layak menerima afirmasi, akan kami pertimbangkan. Jika tidak, kami serahkan kembali ke Disdikpora," ujar Ichwan pada Radar Jogja, Kamis (3/7).
Diakuinya, SMAN 3 Jogja menerima 75 siswa melalui jalur afirmasi, dan tidak ada satupun siswa afirmasi inklusi atau disabilitas yang mendaftar.
Lalu, dengan diskualifikasi tersebut, kini tersisa 74 siswa.
Ichwan menambahkan, jika siswa yang didiskualifikasi tersebut tidak diterima di sekolah manapun.
sehingga masih memiliki peluang mengikuti seleksi jalur murid cadangan.
"Secara umum, kami di sekolah hanya melaksanakan SPMB sesuai dengan arahan dari dinas," tambahnya.
Sementara, terkait daftar ulang, Ichwan menyebutkan bahwa antusiasme orang tua siswa cukup tinggi.
Dari tiga hari masa daftar ulang yang berlangsung 2-4 Juli, hari kedua menjadi puncaknya.
"Hari pertama sekitar 48 siswa yang daftar ulang. Hari kedua lebih ramai karena sebagian orang tua masih menyiapkan berkas di hari pertama," ungkapnya.
Terpisah, Ketua Panitia SPMB SMAN 6 Jogja Suratno menyampaikan, bahwa ada empat siswa yang didiskualifikasi dari jalur afirmasi karena tidak dapat menunjukkan bukti pendukung.
Dari total kuota afirmasi sebanyak 86 siswa, termasuk dua kuota afirmasi inklusi atau disabilitas, dan kini hanya tersisa 80 siswa di jalur afirmasi secara akumulatif.
"Empat siswa yang didiskualifikasi belum datang ke sekolah dan belum menyampaikan dokumen pendukung," jelasnya.
Senada dengan SMAN 3 Jogja, Suratno berujar bahwa SMAN 6 juga memberikan peluang bagi siswa yang didiskualifikasi untuk mendaftar melalui jalur murid cadangan.
Suratno menegaskan dukungannya terhadap langkah Disdikpora dalam menjaga integritas jalur afirmasi.
Ia berharap, ke depan ada penyaringan dan sinkronisasi data yang lebih akurat antara Disdikpora dan Dinas Sosial agar peristiwa serupa tidak terulang.
"Jalur afirmasi harus benar-benar diberikan kepada mereka yang memang layak, yaitu siswa dari keluarga tidak mampu," tegasnya.
Suratno juga menambahkan, antusiasme daftar ulang di SMAN 6 sangat tinggi.
Di hari pertama, lebih dari 200 siswa sudah melakukan daftar ulang, sedangkan hari kedua mencapai sekitar 50 siswa.
"Sepertinya bisa terpenuhi hari ini, karena besok tanggal 4 itu waktu daftar ulangnya pendek, cuma sampai jam 10," pungkasnya. (iza)
Editor : Bahana.