Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemkot Magelang Kaji Masuk Sekolah Maju Lebih Pagi Pukul 06.30, Strategi Besar Pembentukan Karakter Siswa

Naila Nihayah • Sabtu, 14 Juni 2025 | 04:45 WIB

 

ASYIK BERMAIN: Para siswa di SMPN 11 Kota Magelang tampak bermain saat jam istirahat berlangsung.
ASYIK BERMAIN: Para siswa di SMPN 11 Kota Magelang tampak bermain saat jam istirahat berlangsung.
 

MAGELANG - Pemkot Magelang tengah mengkaji penerapan kebijakan baru terkait jam masuk sekolah lebih awal untuk jenjang SD dan SMP. Waktu masuk yang semula dimulai pukul 07.00, bakal dimajukan menjadi pukul 06.30.

Nantinya, rencana itu mulai diberlakukan pada tahun ajaran baru 2025/2026. Langkah ini tidak sekadar soal teknis pengaturan waktu. Melainkan menjadi bagian dari strategi besar pembentukan karakter siswa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Imam Baihaqi menilai, masuk sekolah lebih pagi melatih anak tidur tidak terlalu malam dan lebih siap mengikuti pelajaran. "Ini sejalan dengan tujuh pembiasaan: bangun pagi, berdoa, berolahraga, belajar, bermasyarakat, dan tidur cukup," ujarnya Jumat (13/6).

Dia menjelaskan, dengan sistem lima hari sekolah, penambahan muatan karakter di siang hari justru akan memundurkan waktu pulang siswa. Hal itu bisa mengganggu aktivitas anak-anak di luar sekolah. Seperti mengikuti Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), kegiatan keagamaan, maupun aktivitas ekstrakurikuler lainnya.

"Kalau jam pulang mundur, kasihan anak-anak. Apalagi banyak kegiatan sosial dan keagamaan di masyarakat yang biasa diikuti sore hari," tambah Imam.

Ia menyebut, disdikbud pun telah mengumpulkan para kepala sekolah untuk menyamakan persepsi dan akan segera melakukan sosialisasi kepada orang tua siswa. Bahkan sudah ada sekolah yang menerapkan kebijakan itu yakni SMPN 2 Kota Magelang.

Sekolah tersebut, kata dia, telah lebih dulu menerapkan jam masuk lebih awal secara inisiatif internal. Mengingat SMPN 2 Kota Magelang berbasis agama dan memiliki branding pendidikan karakter yang kuat.

Sementara sekolah swasta, apalagi yang berbasis boarding, rerata sudah lebih dulu menerapkan. "Di SMPN 2 Kota Magelang juga sudah jalan dan kita melihat dari situ perkembangannya seperti apa," ujarnya.

Kebijakan ini, lanjut Imam, tidak dimaksudkan untuk menambah beban akademik siswa. Durasi pembelajaran inti tetap sama, namun ada tambahan waktu di pagi hari untuk aktivitas pembentukan karakter. Baik dalam bentuk doa pagi, senam, hingga praktik tata krama dan budaya.

"Output-nya agar anak-anak tidak hanya unggul secara kognitif dan akademik, tapi juga perilaku, moral, dan adabnya bagus. Itu yang sedang kita bangun," tambahnya.

Meski demikian, wacana ini tidak lepas dari tantangan. Satu di antaranya adalah kekhawatiran terkait kesiapan siswa. Khususnya yang tinggal jauh dari sekolah, serta beban guru dan tenaga pendidik yang juga harus menyesuaikan jam kerja lebih pagi.

Menanggapi hal itu, Imam menyatakan, disdikbud akan menerapkan kebijakan tersebut secara bertahap dan melakukan evaluasi berkala. "Kita jalankan dulu, nanti kita lihat seperti apa perkembangan dan responnya. Jangan sampai justru memberatkan," katanya.

Dia menambahkan, dalam waktu dekat Disdikbud Kota Magelang akan menerbitkan surat edaran (SE) resmi terkait kebijakan tersebut. Saat ini, disdikbud tengah menyusun detail teknis bersama para kepala sekolah agar implementasinya berjalan efektif.

"Yang jelas pendidikan karakter akan divariasikan, bisa dalam bentuk nilai-nilai keagamaan, budaya, hingga pembiasaan sehari-hari yang sekarang banyak anak-anak kurang peka, seperti membantu pekerjaan rumah," jelas Imam.

Secara prinsip, disdikbud ingin memastikan waktu belajar yang lebih pagi dapat melindungi keseimbangan hidup siswa. Waktu pulang yang tidak terlalu sore memungkinkan mereka tetap aktif di tengah masyarakat tanpa terganggu beban akademik yang melelahkan.

"Intinya agar kegiatan sosial dan keagamaan siswa di luar sekolah tidak terganggu. Pendidikan formal harus selaras dengan kehidupan sosial anak," tandasnya.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono berharap, kebijakan ini menjadi langkah awal untuk membangun sistem pendidikan yang menyeluruh, dari waktu belajar, penguatan SDM, hingga pembenahan sarana dan prasarana. "Pendidikan karakter dipandang sebagai fondasi penting kemajuan bangsa," ucapnya.

Dengan semangat reformasi pendidikan karakter yang lebih utuh dan kontekstual, Pemkot Magelang kini menapaki langkah awal untuk membentuk ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil ujian, tetapi juga pembiasaan nilai-nilai moral sejak dini. (aya/laz)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Pembentukan Karakter Siswa #jam masuk sekolah #Pemkot Magelang #lebih awal #SMP #Disdikbud #Penerapan #Kota Magelang #Mengkaji #dinas pendidikan dan kebudayaan #Wali Kota Magelang Damar Prasetyono #Kebijakan #sd