JOGJA - Jumlah pendaftar Sekolah Rakyat (SR) setingkat SMA/SMK di DIY lebih dari 700 orang. Hanya saja, siswa yang diterima nantinya hanya 275 orang. Kini, ratusan siswa telah dinyatakan gugur karena tidak sesuai kriteria.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIY Endang Patmintarsih menjelaskan, syarat bagi pendaftar SR adalah kategori miskin dan terdaftar di data terpadu ekonomi sosial nasional (DTSN) desil 1. Tim lapangan telah melakukan pendataan dan dokumentasi langsung dengan mendatangi rumah mereka.
Namun, banyak pendaftar tidak lolos seleksi karena mereka tidak masuk kategori miskin desil 1. Selain itu, para anak tidak mau bersekolah di SR, walaupun orang tua menginginkan anaknya mendaftar. "Kemauan itu dari anak dan orang tua harus disamakan, karena modelnya boarding school," tuturnya saat dikonfirmasi Rabu (11/6).
Dalam proses seleksi, juga didapati pendaftar yang mengundurkan diri. Alasanyya karena tidak mau bersekolah di SR. "Kami telah memberi semangat dan dorongan, kalau tidak berkenan ya tidak bisa dipaksa. Ada 26 orang yang mengundurkan diri," bebernya.
Nantinya, 275 peserta yang lolos menjadi siswa SR berasal dari seluruh kabupaten/kota di DIY. Setelah lolos, mereka akan terbagi di dua tempat. Sebanyak 200 siswa akan ditempatkan di Sonosewu, Bantul yang saat ini difungsikan sebagai Instalasi Rehabsos Napza Sonosewu atau Sentra Terpadu Prof Dr Soeharso Surakarta-Sonosewu. Sisanya 75 siswa di Purwomartani, Kalasan, yang merupakan Kantor Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Jogjakarta. "Tinggal menunggu penetapn melalui SK Gubernur," ujarnya.
Launching SR akan dilakukan pada Juli. Bertepatan dengan tahun ajaran baru di sekolah umum. "Persiapan sarpras sudah berposes, ditangani langsung oleh pusat," jelasnya. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita