SLEMAN - Inovasi energi terbarukan terus dikembangkan para akademisi. Salah satunya dari Dr Heri Septya Kusuma, dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY).
Kepala Laboratorium Teknologi Material dan Pemisahan, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri UPN itu berhasil mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar padat yang ramah lingkungan.
Penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal internasional Egyptian Journal of Chemistry Vol 68, No 4, 2025, yang terindeks Scopus Q3, dengan judul Optimization for Synthesis of Solid Alcohol from Supernatant-Waste Cooking Oil using Box Behnken Design.
Baca Juga: Pemkab Kebumen Siapkan Anggaran Rp 10,4 Miliar untuk Bangun 14 Puskesmas Pembantu
"Produk ini sangat potensial untuk digunakan oleh sektor rumah tangga, UMKM kuliner, wisata alam, hingga situasi tanggap darurat," katanya, Rabu (21/5/2025).
Dalam riset tersebut, Heri dan tim menggunakan pendekatan response surface methodology (RSM) dan box-behnken design (BBD) untuk mengoptimalkan konversi minyak goreng bekas menjadi solid alcohol.
Produk ini berbentuk bahan bakar padat yang praktis, mudah terbakar, dan relatif aman digunakan untuk kebutuhan energi skala kecil hingga menengah.
"Hasil penelitian ini mencatat yield hingga 87,09 persen dengan tingkat desirability mencapai 0,911," jelasnya.
Dalam prosesnya, penelitian ini juga melibatkan beberapa kolaborator lain, seperti Dr Muhammad Redo Ramadhan dari UPNVY dan Dyan Hatining Ayu Sudarni dari Universitas PGRI Madiun.
Selain itu, ada lima mahasiswi Teknik Kimia UPNVY yang juga terlibat sebagai peneliti muda, yakni Debora Engelien Christa Jaya, Dwi Kurnia Afifah, Safinah Annajah Nasution, Deva Meida Fachri, dan Ratu Kalya Mongilong.
"Secara progresi hasil riset ini berkontribusi pada agenda strategis nasional dan global," terangnya.
Menurutnya, di tingkat internasional, inovasi ini mendukung tujuan sustainable development goals (SDGs), khususnya pada transisi energi bersih, pengelolaan limbah, efisiensi industri, dan mitigasi perubahan iklim.
Sementara dalam tingkat nasional, ia memproyeksikan agar riset ini bisa memperkuat visi Indonesia Emas 2045, salah satunya melalui agenda hilirisasi.
"Ini bukan sekadar publikasi ilmiah. Tapi juga memperkuat kemandirian energi, dan industrialisasi desa berbasis inovasi," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita