JOGJA - Dugaan kebocoran soal Asesmen Standarisasi Pendidikan Daerah (ASPD) 2025 jenjang SMP di Jogja terus menuai sorotan.
Soal numerasi atau Matematika diduga sudah beredar sebelum pelaksanaan resmi, dengan salah satu titik dugaan kebocoran berada di SMPN 10 Jogja.
Diketahui, seorang guru di sekolah tersebut turut terlibat dalam tim penyusun soal.
Menanggapi hal ini, pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr Rukiyati menilai, kejadian tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi menyeluruh, tidak hanya terkait dugaan kebocoran, tetapi juga efektivitas pelaksanaan ASPD itu sendiri.
"Jika dugaan kebocoran itu benar. Tentu ini memalukan dan sikap tidak profesional dari pihak yang membocorkan," katanya kepada Radar Jogja, Radar Jogja (7/5/2025).
Dosen Departemen Kebijakan Pendidikan FIP UNY tersebut menyoroti, bahwa ASPD hanya diterapkan di wilayah DIY, tidak diterapkan secara nasional.
Hal ini, menjadi alasan perlu adanya kajian mendalam apakah model asesmen seperti ASPD masih efektif dalam mengukur capaian pembelajaran siswa.
Menurutnya, metode dan basis penilaian yang dilakukan pada ASPD sudah tidak cukup relevan dengan dinamika dan kebutuhan pendidikan saat ini.
Alih-alih meminta siswa untuk mengerjakan puluhan soal pilihan ganda, ia menyarankan bahwa lebih ideal siswa diuji dengan practice based learning.
"Seperti kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, kolaborasi, praktik atau terapan. Itu lebih riil dan dibutuhkan oleh siswa," urainya.
Sementara, jika pun ASPD di DIY masih akan tetap dipertahankan, ia mengimbau untuk mendorong perlu adanya tim independen.
Tim yang bertugas mulai dari membuat soal, hingga menjaga kerahasian dan distribusinya.
"Kalau konteksnya seperti ini, ada guru sekolah yang ikut membuat dan siswanya juga ikut mengerjakan, ada bias yang terjadi," terangnya.
Pun, ia mengkhawatirkan bahwa metode seperti ASPD jadi salah satu persyaratan yang tercantum dalam proses pencarian sekolah di DIY.
"Soal-soal seperti ASPD itu penting, tapi lebih efektif disampaikan dalam pembelajaran sehari-hari. Jangan dijadikan ujian penentuan," lontarnya.
Baca Juga: Thermal Decomposer Pemusnah Sampah tanpa Asap Solusi bagi Sampah Diaper, Diuji Coba di Banyuraden
Sebab, jika ASPD dijadikan sebagai acuan atau ujian penentuan, ia mengaku bahwa segala cara akan dilakukan untuk bisa memperoleh hasil maksimal dalam proses pengerjaannya.
"Termasuk berlaku curang, atau sengaja membocorkan soal seperti dugaan saat ini," tandasnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita