JOGJA - Bulan Ramadan merupakan momen umat Muslim berusaha meningkatkan keimanan dan mencari keberkahan melalui berbagai amalan. Salah satunya dengan berbagi.
Namun, di era pesatnya perkembangan teknologi digital, niat berbagi sering kali disertai dengan pembuatan konten saat proses pembagian tersebut.
Fenomena ini disadari oleh Dosen Departemen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Grendi Hendrastomo, yang menilai bahwa hal ini turut mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap kemiskinan.
Baca Juga: Hadapi Libur Lebaran Dinkes Bantul Sudah Siapkan Hadapi Kemungkinan KLB Bila Terjadi
"Misalnya berbagi uang atau takjil dibuat konten, di kapitalisasi dan secara tidak langsung itu mengobjektifikasi kemiskinan," katanya kepada Radar Jogja, Rabu (19/3/2025).
Grendi menjelaskan, konten-konten berbagi yang beredar di media sosial memang sering kali menjadikan orang miskin, penerima bantuan, atau mereka yang diberi sebagai objek semata.
Ia juga menyoroti bahwa banyak kasus yang dijadikan objek dalam konten tersebut dilakukan tanpa adanya kesepakatan atau konsensus dengan pihak yang terlibat.
“Dalam kajian ilmu sosial, praktik ini memang sebuah objektifikasi kemiskinan. Walaupun, perbuatan baik yang dilakukan tetap saja perlu diapresiasi. Entah karena memang ingin berbuat baik dengan cara berbagi, atau jadi momen penghapusan dosa-dosa di bulan suci Ramadan,” ujarnya.
Meski demikian, Grendi juga menilai bahwa pada satu sisi, fenomena itu juga menebarkan aura kebaikan.
Dan dapat menginsipirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Baca Juga: Dinas Pariwisata Gunungkidul Targetkan 130 Ribu Kunjungan Wisata Selama Libur Lebaran 2025
Lebih lanjut, Grendi menyebutkan bahwa pada budaya ketimuran seperti Indonesia, berbagi, apa pun konteksnya, merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan citra diri.
"Hal yang harus dipahami, kalau kamu ingin memberi, silakan beri. Tapi kalau foto atau merekam, harus minta izin, itu beda hal dengan niatan memberi di awal," pesannya.
Pandangan serupa diungkapkan oleh Devita Arumsari, seorang mahasiswa yang juga berprofesi sebagai konten kreator.
Devita menekankan pentingnya kesepakatan antara kedua belah pihak dalam pembuatan konten, terutama dalam konteks berbagi..
Baca Juga: Mengenal Arya Yudha Mahardika, Berhasil Raih Juara Lomba Mendongeng Berbahasa Prancis
"Aku biasanya bikin konten soal review makanan. Untuk orang-orang atau tempat yang ku rekam, itu aku selalu izin," beber mahasiswi Universitas Amikom ini.
Baginya, hal tersebut jadi sebuah hal mendasar yang harus dilakukan. Sebab, secara tidak langsung dimungkinkan konten yang dibuatnya, berpotensi menganggu kenyamanan orang lain.
"Aku sendiri membayangkan, kalau tiba-tiba diobjektifikasi atau dimasukkan konten tanpa izin, mungkin juga kurang nyaman," tandansya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita