JOGJA - Laka laut yang menyebabkan korban meninggal dalam rangkaian kegiatan outing class SMPN 7 Mojokerto, yang berlangsung di Pantai Drini, Gunungkidul, mendapat perhatian dari banyak pihak.
Merespons hal tersebut, dosen prodi Kebijakan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (FIPP UNY) Ariefa Efianingrum berujar, outing class atau study tour sejatinya merupakan aktivitas edukatif di luar kelas. Sebagai wahana refreshing setelah para siswa ikut serangkaian proses pembelajaran di sekolah.
Sebagai aktivitas di luar kelas atau sekolah, outing class juga bermakna untuk menambah pengalaman siswa, khususnya mengeksplorasi objek wisata edukatif. Ariefa menuturkan, pemilihan tujuan wisata jadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
Idealnya, perlu aspirasi warga sekolah yang disampaikan melalui angket, polling, google form, maupun musyawarah. "Sebagai alternatif, selain wisata ke luar kota, perlu dipertimbangkan opsi tujuan wisata edukatif di dalam kota ataupun sekitar sekolah," katanya pada Radar Jogja, Rabu (29/1).
Sebagai pengamat pendidikan, Ariefa sangat menyayangkan kejadian yang terjadi di Gunungkidul tersebut. Apalagi, sampai harus menelan korban jiwa. "Duka mendalam atas musibah yang dialami siswa SMPN 7 Mojokerto. Semoga kejadian serupa tidak terulang kembali," harapnya.
Baca Juga: Meriah! Barongsai dan Liong Hibur Ribuan Pengunjung di Candi Borobudur
Ariefa berpandangan, kejadian yang memilukan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi berbagai pihak. Dari sisi pelaksanaan, kegiatan study tour biasanya melalui izin dari dinas pendidikan. "Pemilihan waktu dan tujuan wisata juga harus berdasar persetujuan semua pihak. Baik siswa, guru, maupun orangtua siswa," pesannya.
Dalam konteks yang terjadi di Gunungkidul, Ariefa menyadari bahwa masa liburan panjang berimplikasi pada membludaknya pengunjung di objek wisata. Sehingga kontrol dan pengawasan pada pengunjung objek wisata perlu senantiasa ditingkatkan, baik dari pihak pengelola objek wisata maupun pihak sekolah.
"Perlu literasi soal karakteristik masing-masing wisata, agar siswa dan guru bisa menyiapkan diri lebih baik agar terhindar dari risiko yang tidak diinginkan," lontarnya.
Baca Juga: Pedagang Tagih Janji! Tuntut Kepastian Lapak di Kampung Seni Borobudur
Lebih lanjut, menyoal kasuistik di mana beberapa sekolah yang mewajibkan siswanya untuk ikut dalam kegiatan study tour atau outing class, Ariefa menilai mestinya kegiatan study tour diselenggarakan tidak bersifat wajib, tetapi pilihan.
"Mengingat kondisi dan latar belakang orangtua maupun siswa yang juga beragam," bebernya.
Ia berpesan, belajar dari musibah ini, di waktu mendatang, seyogyanya semua pihak perlu lebih antisipatif dalam memitigasi risiko kecelakaan, baik kecelakaan lalu lintas ataupun kecelakaan di objek wisata.
"Jangan sampai tujuan semula wisata edukasi untuk suka cita, malah berujung duka," tandasnya. (iza)