Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belajar dari Tragedi Siswa SMPN 7 Mojokerto , Siswa Perlu Dibekali Pengetahuan Karakteristik Objek Wisata Tujuan

Fahmi Fahriza • Kamis, 30 Januari 2025 | 12:50 WIB

 

BERJAJAR: Sejumlah bus mengangkut siswa yang tengah melakukan study tour di Candi Borobudur. 
BERJAJAR: Sejumlah bus mengangkut siswa yang tengah melakukan study tour di Candi Borobudur. 

 

JOGJA - Laka laut yang menyebabkan korban meninggal dalam rangkaian kegiatan outing class SMPN 7 Mojokerto, yang berlangsung di Pantai Drini, Gunungkidul, mendapat perhatian dari banyak pihak.

 

Merespons hal tersebut, dosen prodi Kebijakan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (FIPP UNY) Ariefa Efianingrum berujar, outing class atau study tour sejatinya merupakan aktivitas edukatif di luar kelas. Sebagai wahana refreshing setelah para siswa ikut serangkaian proses pembelajaran di sekolah. 

 Baca Juga: Pasangan Kumpul Kebo di Purworejo Bersekongkol Lakukan Pencurian di Delapan Lokasi, Terancam Hukuman Tujuh Tahun Penjara

Sebagai aktivitas di luar kelas atau sekolah, outing class juga bermakna untuk menambah pengalaman siswa, khususnya mengeksplorasi objek wisata edukatif. Ariefa menuturkan, pemilihan tujuan wisata jadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Idealnya, perlu aspirasi warga sekolah yang disampaikan melalui angket, polling, google form, maupun musyawarah.  "Sebagai alternatif, selain wisata ke luar kota, perlu dipertimbangkan opsi tujuan wisata edukatif di dalam kota ataupun sekitar sekolah," katanya pada Radar Jogja, Rabu (29/1).

 

Sebagai pengamat pendidikan, Ariefa sangat menyayangkan kejadian yang terjadi di Gunungkidul tersebut. Apalagi, sampai harus menelan korban jiwa. "Duka mendalam atas musibah yang dialami siswa SMPN 7 Mojokerto. Semoga kejadian serupa tidak terulang kembali," harapnya.

 Baca Juga: Meriah! Barongsai dan Liong Hibur Ribuan Pengunjung di Candi Borobudur

Ariefa berpandangan, kejadian yang memilukan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi berbagai pihak. Dari sisi pelaksanaan, kegiatan study tour biasanya melalui izin dari dinas pendidikan.  "Pemilihan waktu dan tujuan wisata juga harus berdasar persetujuan semua pihak. Baik siswa, guru, maupun orangtua siswa," pesannya.

 

Ariefa Efianingrum (Dosen Prodi Kebijakan Pendidikan dan Koordinator Kajian Ilmu Pendidikan FIPP UNY)
Ariefa Efianingrum (Dosen Prodi Kebijakan Pendidikan dan Koordinator Kajian Ilmu Pendidikan FIPP UNY)

Dalam konteks yang terjadi di Gunungkidul, Ariefa menyadari bahwa masa liburan panjang berimplikasi pada membludaknya pengunjung di objek wisata. Sehingga kontrol dan pengawasan pada pengunjung objek wisata perlu senantiasa ditingkatkan, baik dari pihak pengelola objek wisata maupun pihak sekolah. 

 

"Perlu literasi soal karakteristik masing-masing wisata, agar siswa dan guru bisa menyiapkan diri lebih baik agar terhindar dari risiko yang tidak diinginkan," lontarnya.

 Baca Juga: Pedagang Tagih Janji! Tuntut Kepastian Lapak di Kampung Seni Borobudur

Lebih lanjut, menyoal kasuistik di mana beberapa sekolah yang mewajibkan siswanya untuk ikut dalam kegiatan study tour atau outing class, Ariefa menilai mestinya kegiatan study tour diselenggarakan tidak bersifat wajib, tetapi pilihan.

 

"Mengingat kondisi dan latar belakang orangtua maupun siswa yang juga beragam," bebernya.

 

Ia berpesan, belajar dari musibah ini, di waktu mendatang, seyogyanya semua pihak perlu lebih antisipatif dalam memitigasi risiko kecelakaan, baik kecelakaan lalu lintas ataupun kecelakaan di objek wisata. 

 

"Jangan sampai tujuan semula wisata edukasi untuk suka cita, malah berujung duka," tandasnya. (iza)

 

 
Editor : Heru Pratomo
#edukasi #studi tour #Polling #Gunungkidul #Edukatif #Outing Class #UNY #pantai drini #psikologi #SMPN 7 MOJOKERTO