BANTUL - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus berinovasi dalam pengelolaan lingkungan.
Kampus tersebut mengembangkan teknologi pembakaran sampah minim asap untuk mengolah limbah residual yang tidak bisa didaur ulang.
Kepala Biro Umum UMY, Giyanto mengatakan teknologi ini menggunakan tungku pembakaran khusus yang dilengkapi dengan sistem penyaring asap.
Teknologi incinerator mampu membakar sampah pada suhu tinggi tanpa mencemari udara, karena asapnya disalurkan melalui air.
“Asap dari pembakaran dialirkan melalui corong menuju empat drum berisi air."
"Hasilnya, asap yang keluar sangat minim, hampir tidak terlihat,” kata Giyanto pada Kamis (9/1/2024).
Pengelolaan sampahnya memiliki efisiensi tinggi.
Tungku pembakaran mampu mencapai suhu hingga 600 derajat Celsius, sehingga proses pembakaran berlangsung cepat, terutama untuk sampah kering.
"Tungku yang digunakan berukuran 50x50 cm, namun UMY berencana membuat tungku berkapasitas lebih besar agar bisa mengolah sampah dalam skala lebih besar," ujarnya.
Menurut dia, dengan konsep seperti itu sampah kering sangat cepat terbakar.
Bara apinya juga sangat panas, sehingga efektif mengolah sampah dengan volume besar.
Selain sampah residual, UMY juga mengolah sampah organik, seperti daun, menjadi kompos.
Hasilnya digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah di area kampus yang mulai menipis humusnya.
"Setiap hari, rata-rata tiga kubik sampah daun diolah menjadi pupuk kompos," ungkapnya.
Menurutnya, teknologi ini juga bisa diterapkan di lingkungan perumahan.
Syaratnya, warga harus berkomitmen memilah sampah dan memastikan bahan yang akan dibakar dalam kondisi kering.
“Kalau skala kompleks perumahan, sangat memungkinkan."
"Asalkan mau memilah sampah, prosesnya sangat sederhana,” tegasnya.
Tungku ini terus dikembangkan agar kapasitasnya lebih besar.
Dengan langkah demikian, UMY tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan kampus, tetapi juga memberikan contoh pengelolaan sampah modern yang bisa diterapkan di berbagai tempat.
Model pengelolaan sampah berbasis teknologi dan sirkularitas, UMY jadi rujukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak yang datang melakukam studi tiru pada Rabu (08/01/2025).
Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Aset UMY, Rudy Suryanto, mengungkapkan bahwa UMY telah mengadopsi konsep zero waste yang dimulai dari hulu.
"Sampah organik, seperti daun, diolah jadi pupuk untuk lahan pertanian milik kampus."
"Hasilnya digunakan sendiri, sehingga menciptakan siklus berkelanjutan."
"Apa yang kita tanam adalah yang kita makan, dan sebaliknya,” kata Rudy. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin