Termasuk bagi siswa-siswi mereka lulusan tahun 2024 ini.
Kepala sekolah SMK-SMTI Yogyakarta, Rr Ening Kaekasiwi menyampaikan, jumlah lulusan pada tahun 2024 sebanyak 261 orang.
Dari total itu, keterserapan lulusan yang bekerja, kuliah dan berwirausaha setelah 6 bulan lulus sebesar 98,85 persen.
Dengan rincian, siswa yang memutuskan bekerja sebanyak 205 orang atau 78,54 persen, melanjutkan pendidikan tinggi 49 orang atau 18,77 persen, dan berwirausaha 4 orang atau 1,53 persen.
"Ada tiga orang sedang dalam proses bekerja dan kuliah, kami pastikan mereka juga akan terserap kurang dari satu tahun kelulusan," katanya dalam sesi Wisuda Purna Siswa SMK-SMTI Yogyakarta tahun 2024 yang berlangsung di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Center, Sabtu (9/11).
Ening menuturkan, rasionalisasi lulusan bisa terserap 100 persen, diperkirakan akan dicapai pada awal 2025 mendatang.
Di mana, saat ini satu siswa sedang menunggu konfirmasi dari salah satu PT, dan dua lainnya sedang proses masuk akademi polisi.
"Kami terus pantau dan pastikan mereka terserap, kami juga siap mencarikan agar mereka bisa terserap segera," ungkapnya.
"Targetnya awal tahun 2025 nanti sudah 100 persen terserap semuanya," sambungnya.
Disebutkan, animo masyarakat untuk mendaftarkan diri di SMK-SMTI secara berkala juga terus meningkat.
Adapun animo pendaftar sebelumnya yakni 1 banding 8, dan saat ini meningkat signifikan menjadi 1 banding 12 pendaftar.
"Promosi digalakkan, semua platform dan metode dilakukan agar masyarakat mendaftar, hal itu terbukti dengan meningkatnya animo jumlah pendaftar," ungkapnya.
Diakuinya, salah satu alasan yang meningkatkan animo pendaftar adalah jaminan lulusan terserap kerja, hingga adanya pembukaan program kelas baru yang sesuai dengan kebutuhan industri.
"Kami buka program kelas baru, sesuai dengan kebutuhan dan arahan dari industri langsung," paparnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian RI , Masrokhan, mengaku bangga dan mengapresiasi capaian yang diraih SMK-SMTI Yogyakarta.
"Ini menunjukkan capaian yang luar biasa, target-target yang diberi tercapai. Seperti penambahan kelas baru, dan animo juga meningkat," pujinya.
Masrokhan berujar, sistem link and match yang dilakukan antara pihak industri dan pendidikan vokasi maupun kejuruan, jadi salah satu metode efektif yang terus digencarkan.
"Ada kesesuaian yang antara sekolah dan kebutuhan industri, harapannya itu bisa terus ditingkatkan, terutama untuk melahirkan kelas-kelas baru bertaraf internasional," lontarnya.
"Kita harus terus menyiapkan SDM dan lulusan yang berdaya saing tinggi," pesannya.
Selain penyesuaian kurikulum, hal lain yang jadi kunci menurut Masrokhan adalah implementasi teknologi digital. Menurutnya, penting untuk menerapkan teknologi dalam sistem pembelajaran para siswa, termasuk di SMK-SMTI Yogyakarta.
"Teknologi harus diaplikasikan, agar mereka siap kerja dan beradaptasi dengan teknologi baru. Syukurnya mereka sudah dikenalkan dan dibekali," ulasnya.
Penuturan lain datang dari Adam Jatmiko Ardi, peraih gelar lulusan terbaik dari konsentrasi keahlian Teknik Kimia Industri.
Adam sendiri mengaku tidak pernah memproyeksikan diri untuk bisa jadi lulusan terbaik.
"Tidak pernah direncanakan, jadi mengalir saja, dan Alhamdulillah ini jadi terbaik satu di jurusan Teknik Kimia Industri," serunya.
Saat ini, Adam juga sudah resmi bekerja sebagai operator kimia di PT Citra Resins Industries yang berlokasi di Serang, Banten. Bahkan, ia sudah resmi bekerja sebelum lulus dari SMK-SMTI Yogyakarta.
"Saya sudah bekerja sejak Mei 2024, setelah wisuda ini masih fokus kerja di situ untuk menambah pengalaman yang lebih dalam," bebernya.
Menurut Adam, SMK-SMTI Yogyakarta mampu menyesuaikan dengan kebutuhan industri karena sistem pendidikannya lebih fleksibel sesuai dengan permintaan industri dan cakupan kerja yang sangat luas
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan jumlah lulusan dari unit pendidikan vokasi di bawah Kementerian Perindustrian juga dipastikan dapat langsung diterima bekerja di sektor industri.
Agus Gumiwang menegaskan, secara keseluruhan atau 100 persen lulusan dari unit pendidikan vokasi di bawah Kemenperin langsung diterima kerja di sektor industri.
(iza).