JOGJA - Bagi mahasiswa yang bermimpi melanjutkan studi ke luar negeri, nama Yurliawan bukan sekadar dosen biasa. Dia sosok di balik suksesnya 23 Jurusan Kriya mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja yang berhasil menembus program beasiswa S2 di Tiongkok, spanyol dan Taiwan.
Tidak hanya itu, Wakil Dekan I Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Jogja juga dikenal sebagai figur yang memiliki jaringan luas dengan universitas terbaik di asia tenggara, Asia dan sebagian di Eropa dunia. Namun, di balik kesuksesan itu, ada kisah perjalanan panjang dan tidak mudah.
"Dulu saya pernah kecewa karena nggak ada dosen yang bisa bantu ngirim saya ke luar negeri," kata Yurliawan Dafri.
Akhirnya dapat kesempatan pada tahun 1994, semasa awal awal menjadi dosen muda, mendapatkan kesempatan utk belajar seni oborigin di Adelaide Australia selama 1 tahun.
"Itupun disponsori oleh pemerintah Australia," terangnya.
Berjalan mendapat kesempatan untuk mengadakan penelitian tentang packing tradisional di osaka Jepang selama lebih kurang 9 bukan, kemudian sempat juga mendampingi istri untuk studi lanjut di Amerika.
"Pada kesempatan itu hanya bisa ikut klas di summer program. Tidak ada satupun sekolah resmi mencapai sebuah gelar," ungkapnya.
Terakhir kesempatan di dapat dari pemerintah China beasiswa selama 1 tahum untk belajar di Nanjing University of arts.
Kegagalan di masa lalu, saat dia mencoba melanjutkan pendidikan ke luar negeri, justru menjadi motivasi terbesar bagi dia untuk membuka jalan bagi para mahasiswanya.
Berkat kegigihan, pihaknya berhasil menjalin kerjasama dengan Nanjing University of the Arts dan Shanghai Art Design Academy.
Dari sinilah, puluhan mahasiswa ISI Jogja mendapatkan kesempatan untuk belajar di luar negeri dengan fasilitas yang sangat memadai.
Mulai dari gaji bulanan sebesar 7 juta rupiah hingga dormitori gratis, semuanya disediakan oleh pemerintah Tiongkok.
"Saya bangga bisa memberikan mereka pengalaman yang dulu saya perjuangkan sendiri," ujarnya.
Bagi Yurliawan, ini bukan hanya soal pendidikan, tapi juga soal memberi kesempatan yang mungkin tidak didapat pada masa lalu.
Kini, dia tengah mempersiapkan batch berikutnya yang akan berangkat ke Taiwan untuk membawa sejumlah mahasiswa dalam program pertukaran pelajar.
"Bagi saya, melihat mereka sukses adalah kebahagiaan terbesar. Ini lebih dari sekadar pekerjaan, namun misi hidup saya, mengirimkan sebanyak mungkin mahasisa ISI ke mancanegara, sebisa dan semampu saya" ucapnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin