RADAR JOGJA - Meneladani nilai-nilai serta semangat dari nenek moyang menjadi semboyan yang terus diamalkan oleh Ketua Dewan Guru Besar UGM Muhammad Baiquni untuk mengarungi kehidupannya. Sebab baginya mempelajari hal-hal itu bisa mendapatkan banyak hikmah yang bisa terus ditelusuri dan diteladani.
Muhammad Baiquni adalah Ketua Dewan Guru Besar UGM yang memiliki latar belakang sebagai pecinta alam. Di mana ketika masih mengenyam pendidikan program S1 di Fakultas Geografi UGM, ia menjadi ketua mahasiswa pecinta alam atau mapala gadjah mada (Mapagama) yang membuatnya memiliki segudang pengalaman.
Walaupun Baiquni merasa bukan seorang mahasiswa yang terbaik pada masanya dan merasa biasa-biasa saja pada saat mahasiswa. Tapi ternyata waktu bisa merubahnya hingga menjadikan dirinya seperti sekarang ini.
Sebab menurutnya, setiap orang di dunia ini memiliki perannya, jalan, serta nasibnya masing-masing. "Tapi usaha serta doa dari orang tua lah yang mampu mengantarkan saya bisa sampai sekarang ini," ungkapnya saat berbincang dengan Radar Jogja, Jumat (30/8).
Baiquni bercerita, setelah lulus kuliah S1 di UGM pada 1988, ia banyak menghabiskan waktunya untuk menjadi aktivis kemasyarakatan atau LSM di gerakan masyarakat sipil. "Kami melihat keadaan pedesaan dan melihat ekonomi masyarakat lalu kami tergerak untuk bekerja di situ. Saya belum kepikiran menjadi dosen waktu itu," jelasnya.
Lalu setelah aktif menjadi aktivis kemasyarakatan Baiquni mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studinya ke Belanda di Institute of Social Studies, Den Haag, The Netherlands. Mulai bersentuhan dengan teori-teori pembangunan, dan perencanaan-perencanaan yang melibatkan masyarakat. "Waktu itu, kos saya dekat dengan Gedung Parlemen dan Istana waktu di Belanda. Jadi kalau ada demo denger waktu di sana dulu. Selain itu kelas saya juga unik. Dulu kelas saya diisi oleh 16 orang dari 16 negara," tuturnya.
Setelah kembali dari Belanda, Baiquni tetap masih ikut digerakkan masyarakat sipil. Namun tak berselang lama, ia kembali lagi ke Belanda setelah diterima di UGM melalui program Sandwich untuk melanjutkan studinya ke Utrecht University, The Netherlands. Pada 1996 dia jadi dosen. “Lalu setelah saya menjadi Ketua Dewan Guru Besar UGM ini teman-teman seangkatan mengucapkan selamat, tapi saya masih bingung, karena saya merasa kembali ke kelas lagi. Sebab ruangan ini dulu 1980-an adalah kelas saya," katanya sambil terkekeh.
Saat ini, Baiquni sendiri telah mendirikan sekolah berdaulat di kampungnya. Yang harapannya sekolah itu memiliki spirit agar para siswanya dapat berdaya, berusaha, dan bertawakal. Selain mendirikan sekolah berdaulat, ternyata Baiquni juga mempunyai sanggar kecil yang bernama Kalam atau singkatan dari Kalasan Anak Alam.
Baiquni menyatakan para Guru Besar DI UGM saat ini mempunyai tugas untuk menjaga integritas akademik dan juga memberikan advis kepada perlindungan rektor dan unit-unit lain serta berfikir luas untuk turut serta atau berkontribusi secara nasional. Mereka telah memiliki banyak program yang diantaranya seperti, Pemikiran Bulak Sumur, Guru Besar Mengabdi ke daerah-daerah lain. Di mana itu seperti KKN dan untuk memberikan penguatan agar mahasiswa bisa belajar bersama Guru Besar serta supaya UGM berani ikut membangun Indonesia secara luas.
Lalu program publikasi, dan mendorong para Guru Besar agar terbuka kepada media. "Kami ingin Guru Besar tidak hanya masuk di bidang ilmunya saja. Tapi kami ingin para Guru Besar ini bisa migunani untuk siapa saja," tegasnya. (ayu/pra)
Editor : Satria Pradika