SLEMAN - Mahasiswa Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (SPSR) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan reaktualisasi dan konservasi situs Kenteng, Madurejo, Prambanan, Sleman dalam bingkai cerita Panji Asmarabangun.
Upaya melestarikan budaya tutur situs Kenteng yang erat kaitannya dengan cerita Panji Asmorobangun ini sebagai bentuk refleksi penyegaran dan pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat untuk generasi muda.
Mahasiswa SPSR Danu Anggada Bimantara mengatakan, nilai-nilai budaya situs Kenteng kaitannya dengan cerita Panji Asmarabangun dinilai penting dilakukan.
Upaya yang dilakukan yakni melakukan sarasehan dengan tokoh adat dan budayawan di antaranya ketua Lesbumi NU KH Jadu Maula.
Selain itu, upaya pelestarian lain yakni membangun dan penyusunan teks hingga pengadaan pertunjukan juga dilakukan.
"Diperlukan elaborasi mengenai perawatan yang tidak hanya terbatas pada situs atau bendawi (tangible) saja tetapi juga mengenai hal-hal yang intangible sebagai suatu pengetahuan lokal masyarakat," ujarnya kepada Radar Jogja, Sabtu (24/8/2024).
Selain itu, mereka juga melakukan konservasi penunggalan situs yang berada di masyarakat.
Menurutnya, tradisi lisan yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa situs ini dahulunya merupakan tempat yang sangat sakral yang erat kaitannya dengan cerita Panji Asmarabangun.
"Dibuktikan dengan desa Morobangun dan kesenian jarhilan Singo Manggolo masyarakat dusun," tuturnya.
Sesepuh dusun Kenteng, Harjo Sudarmo mengatakan, dusun ini dulunya digunakan sebagai tempat memberikan sesaji dan pelaksanaan ritual keagamaan.
"Jadi itu menunjukkan pentingnya situs ini dalam kehiduoan spiritual masyarakat setempat," ujarnya.
Sesepuh dusun Morobangun yakni dusun yang masih menjadi satu dengan Kenteng, Damiri mengatakan di dusunnya dulu dikenal sebagai komboran jaran.
Kombiran jaran diartikan sebagai tempa makan dan minum kuda peliharaan Panji Asmorobangun.
"Komboran ini menambah pemahaman kita tentang situs ini, menghubungkannya secara langsung dengan cerita Panji yang legendaris," ujarnya.
Produk kebudayaan dan kesenian lain yang sampai saat ini masih dilakukan yakni Jathilan Singo Manggolo.
Jathilan merupakan bentuk kesenian tradisional Jawa yang melibatkan tarian kuda lumping dan sering kali dianggap sebagai manifestasi dari kekuatan magis dan spiritual.
Kehadiran jathilan di dusun Kenteng dengan pemaknaan nilai-nilai luhur menunjukan betapa kuatnya pengaruh budaya Panji.
Jathilan Singo Manggolo tidak hanya menjadi media untuk melestarikan cerita Panji, tetapi juga menjadi sarana untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial kepada Masyarakat, terutama generasi muda. (oso)
Editor : Meitika Candra Lantiva