Demonstrasi yang dilakukan yakni praktik pembuatan sambel udang serta pengemasanya yg dipaparkan oleh Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia Ts Dr Noor Soffalina Sofian Seng dan pembuatan produk dari UMKM peyek, intip, batik, dan kerajinan tangan (cumplung) Desa Gadingsari sendiri.
Agenda yang berlangsung di Kantor Kalurahan Gadingsari, Bantul itu merupakan agenda kolaborasi Tim PPK Ormawa HMTP dan Program Studi Teknologi pangan UAD yang bekerja sama dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
Setelah Kegiatan di Balai Desa, Mahasiswa beserta Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia dan beberapa Masyarakat berkunjung ke Budidaya Ikan Nila Salin dengan sistem bioflok dan Mina Padi yang merupakan bentuk Program pemberdayaan Masyarakat yang dilaksanakan Tim PPK Ormawa HMTP di Desa Gadingdari.
Kegiatan yang dilangsungkan Selasa (20/8/2024) itu merupakan rangkaian dari program penguatan kapasitas (PPK) organisasi mahasiswa (Ormawa).
PPK Ormawa merupakan program dari Kemendikbud terkait Pemberdayaan Masyarakat.
Demonstrasi dilakukan melibatkan warga sekitar yang bergelut di bidang UMKM.
"Ini merupakan satu upaya kami untuk mendukung kemajuan UMKM Kalurahan Gadingsari dan meningkatkan keberdayaan masyarakatnya," ujar Ketua Tim PPK Ormawa HMTP UAD Salwa Ayu Fadila, Selasa (20/8/2024).
Menurutnya, ada 20 hingga 25 orang yang hadir ikut pelatihan. Diharapkan, masyarakat dapat menjual produknya di pasar internasional.
Pelatihan pembuatan sambal udang dimentori langsung dari salah satu dosen dari UKM. Pemateri Demonstrasi Sambel Udang Ts Dr Noor Soffalina Sofian Seng mengatakan, pelatihan yang diberikannya cara pengolahan udang agar tahan lama.
Para ibu-ibu yang ikut diberikan materi serta pelatihan terkait pengolan dan packaging yang benar agar produk sambal udang tersebut dapat bertahan lama.
Selain itu, belajar untuk menjaga keselamatan makanan sehingga tidak ada bakteri dan bisa tahan lama.
"Ilmu yang diberi ini kami harap bisa diolah sesuai selera lokal Gadingsari," katanya. Menurutnya, para peserta sangat aktif sehingga semangat memberikan materinya.
Dia menuturkan, bila diprosesnya dengan betul bisa tahan lama udang sambal yang dipresto. Kondisi itu dapat dijualnya tidak hanya di Bantul saja tetapi bisa ke luar Indonesia.
Perempuan yang juga menjadi dosen Sains Makanan, Fakulti Sains dan Teknologi, UKM ini mengungkapkan, bisa tahan sampai satu hingga dua tahun ketika diproses dengan cara yang benar sesuai suhu yang disesuaikan.
Sementara itu, Kepala Program Studi Teknologi Pangan FTI UAD Ir. Titisari Juwitaningtyas menyampaikan, pelatihan yang dilakukan merupakan produk berbasis retort atau kemasan aseptis yang berfungsi memperpanjang umur simpan produk.
Menurutnya, ketika UMKM bisa menerapkan metode retort sehingga dapat memiliki peluang bisnis baru.
"Harapan kami mahasiswa tidak belajar di kelas tetapi bisa mendekati masyarakat dan praktik langsung," tegasnya.
Editor : Bahana.