RADAR JOGJA - Memperingati HUT RI ke-79, Pramuka SMKN 2 Pengasih melakukan pembuatan batik bertemakan hari kemerdekaan. Puluhan siswa terlibat langsung dalam pembuatan batik ini.
"Acara ini memperingati HUT RI ke-79, sekaligus unjuk ketangkasan pramuka sekolah kami," ucap Kepala Sekolah SMKN 2 Sumarno, saat ditemui awak media, Jumat (16/8).
Sumarno menyampaikan, dalam membuat batik kemerdekaan melibatkan seluruh siswa SMKN 2 Pengasih. Saat gelar ketangkasan, batik tersebut kemudian ditampilkan dengan penampilan proses finishing batik menggunakan pewarna merah melibatkan 20 siswa yang merupakan anggota Pramuka.
Siswa terlebih dahulu membentangkan kain ukuran 2x17 meter. Kemudian melakukan penambahan motif abstrak pada tengah kain, dengan kuas yang telah dilapisi malam. Sebelumnya, kain tersebut telah diberi motif geblek renteng di tepi media. Kemudian, setelah timbul motif, siswa melakukan pewarnaan.
Pada gelar ketangkasan itu, proses pewarnaan dan pembuatan motif hanya membutuhkan waktu 15 menit. Siswa dapat menyelesaikan batik tersebut dengan singkat. Lantaran, siswa telah mengetahui cara membatik, karena telah mengikuti ekstrakulikuler membatik. "Selain ukuran yang melambangkan tanggal kemerdekaan, corak motifnya menyimbolkan kebebasan," ujarnya.
Sumarno menjelaskan, selain corak geblek renteng, corak batik abstrak menyimbolkan kebebasan dari belunggu penjajahan. Pewarnaan merah pada kain juga menyimbolkan keberanian pejuang kemerdekaan dalam membebaskan bangsa.
Menurutnya dengan kegiatan gelar ketangkasan tersebut dapat menumbuhkan rasa nasionalisme bagi siswa. Terutama di era modernisasi, batik mulai terpinggirkan. Sehingga, kegiatan tersebut memiliki peran dari berbagai aspek. "Batik telah diakui dunia internasional, dan itu merupakan warisan bangsa yang harus dipertahankan," tegasnya.
Sementara itu, salah satu siswa yang membatik Prameswari Nindya Kirana merasa tertarik dnegan kegiatan itu. Sebagai murid baru, dirinya cukup terkesan dengan kegiatan pramuka dan membatik. Lantaran, selama ini hanya melihat batik sebagai produk, bukan dari produksinya.
Nindya membenarkan, kegiatan itu juga mengingatkan kisah perjuangan Bangsa Indonesia yang berusaha bebas dari belenggu penjajahan. Terlebih pemyimbolan kemerdekaan dengan media batik, dapat memberikan pengalaman bagi dirinya."Sekarang sudah memahami car membatik," ucapnya.
Menurutnya, momen itu juga memperkenalkan tentang proses pembuatan batik. Sehingga dirinya merasa mendapatkan wawasan baru. Walaupun, di SMKN 2 Pengasih tak ada jurusan membatik. (gas/pra)