JOGJA - Tahun ini pendidikan khas Kejogjaan mulai diterpakan secara utuh ke semua satuan pendidikan di wilayah Provinsi D.I Jogjakarta. Diaplikasikan ke dalam mata pelajaran, outputnya berupa nilai luhur budaya Jogja.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi DIJ Didik Wardaya mengatakan pendidikan khas Kejogjaan mulai diujicobakan pada tahun lalu.
"Sebelumnya kita cobakan untuk 75 sekolah. Setelah itu tahun ini kita terapkan ke semua sekolah mulai dari yang ringan-ringan," kata Didik Wardaya pada Kamis (1/8/2024).
Sebagaimana diketahui jumlah lembaga pendidikan di Provinsi DIY sebanyak 7.708 sekolah, mulai dari TK sampai SMA sederajat. Rinciannya Kabupaten Bantul 1.895 sekolah, Gunungkidul 1.868, Sleman 1.867, Kulon Progo 1.299 dan Kota Jogja 779.
"Para guru juga mulai mendapatkan pembekalan pendidikan khas Kejogjaan
dengan TOT (training of trainer)," jelasnya.
Kata Didik, pendidikan khas Kejogjaan dijalankan dalam rangka mencetak generasi cerdas, sopan santun dan beradab. Prilaku sopan santun meliputi ucapan dan prilaku.
"Intinya agar semua warga sekolah dan masyarakat di Jogjakarta mengerti tentang budaya khas Jogja," jelasnya.
Sementara itu Wakil Kepala Kurikulum SMAN 9 Jogja Suprihatin mengatakan sebagai sekolah berbasis seni budaya, pihaknya mendukung penerapan pendidikan khas Kejogjaan.
"Aplikasi pendidikan khas Kejogjaan bisa dimulai dari hal ringan berupa ucapan dan prilaku harus dipraktikkan," kata Suprihatin.
Misalanya, dalam satu waktu komunikasi menggunakan dialeg bahasa Jawa seperti, matursuwun (terimakasih), nderek kangkung (permisi), pangapunten (mohon maaf) dan sebagainya.
Dikatakan, pendidikan khas Kejogjaan dapat diterapkan ke dalam mata pelajaran. Ada buku panduannya, dan pihak guru juga telah mengikuti pembekalan.
"Penerapan pendidikan khas Kejogjaan ada di nilai-nilai luhur Jogja, berupa pembiasaan, artefak dan yang lain," ujarnya.
Pembelajarannya terintegrasi dengan mata pelajaran agar nilai-nilai tersebut dapat dimasukkan. Jadi, pendidikan khas Kejogjaan bukan diterapkan dalam bentuk pelajaran khusus.
"Tapi muatan pendidikan khas Kejogjaan dimasukkan ke dalam mapel, sebagaimana mengintegrasikan sekolah aman bencana. Modelnya seperti itu," ucapnya.
Dengan masuknya pendidikan khas Kejogjaan, maka budaya luhur tidak semakin tergerus oleh zaman. Menurutnya semua mapel bisa dimasukkan pendidikan khas Kejogjaan.
"Tapi tidak perlu dipaksakan. Misalnya pelajaran matematika kalau sulit, ya jangan dimasukkan. Masukkan saja ke mapel yang capaiannya bisa dimasukkan," terangnya.
Mengenai bahasa Jawa, dialegnya tidak menjadi keharusan mengingat beragam warga sekolah dari berbagai latar belakang suku di Indonesia. Terpenting komunikasi bisa dipahami.
"Di kami, budaya yang dikembangkan namanya Iman. Akronim dari inggih (iya), monggo (silakan), matursuwun (terimakasih), nuwunsewu (mohon maaf) jadi budaya sehari-hari," bebernya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin