RADAR JOGJA - Masa pelaksanaan MPLS di tiap sekolah bervariasi, antara tiga sampai lima hari. Di SMPN 12 Jogja misalnya, kegiatan ini akan digelar lima hari yang diisi berbagai program variatif berbasis teori dan praktik.
"Kami kombinasikan teori dan praktik. Selain di sekolah, kami juga akan ke Taman Pintar, wisata sambil belajar," kata Kepala Sekolah SMPN 12 Jogja Abdurrahman kemarin (14/7).
Ia berujar, MPLS jadi momentum yang tepat untuk memberi pemahaman yang sifatnya edukatif bagi para siswa. Ia sendiri memastikan MPLS di sekolahnya tidak akan menampilkan unsur-unsur bullying atau meminta siswa membawa barang yang justru merepotkan dirinya sendiri.
"Tidak ada barang-barang aneh. Kami hanya minta siswa bikin name tag di dada, agar bisa saling mengenal saat MPLS. Bawa barang-barang aneh atau perpeloncoan itu hal yang tidak esensial sama sekali," ungkapnya.
Dalam praktiknya, Abdurrahman merinci SMPN 12 menggandeng pihak eksternal dalam pelaksanaannya. Salah satunya adalah pihak kepolisian yang akan memberi sosialisasi soal pencegahan kenakalan remaja.
Selain itu, turut dihadirkan juga petugas pemadam kebakaran. Mereka akan memberi teori dan praktik soal mitigasi bencana kebakaran, dan penyelematan bagi diri sendiri serta sekitar. "Untuk kepolisian ini sudah beberapa tahun. Kalau damkar inovasi yang baru kami lakukan tahun ini," bebernya.
Disebutnya, para orang tua siswa baru juga secara aktif dilibatkan dalam proses MPLS, bahkan sejak pra-MPLS. Hal ini bertujuan agar orang tua juga mengetahui program-program MPLS, bahkan kurikulum dan rencana pembelajaran bagi para siswa. "Nanti hari keempat MPLS orang tua juga akan hadir. Siswa baru akan menampilkan gelar karya di sekolah," ujarnya.
Terpisah, Koordinator MPLS SMA Kolese De Britto Tri Winanto memaparkan, secara tegas pihaknya juga menolak adanya praktik perpeloncoan. Bahkan secara kultural SMA De Britto sangat membebaskan bagi para siswanya. "Kami tidak ada unsur perpeloncoan. Tidak ada juga meminta siswa bawa hal-hal aneh. Itu kan sudah tidak relevan lagi," sebutnya.
Baca Juga: Dana Bosda Naik, Mudahkan Program Sekolah dan Operasional
Dalam MPLS yang akan berlangsung lima hari, Tri berujar pihaknya akan memfokuskan siswa benar-benar pada pengenalan sekolah. Kemudian pengenalan satu sama lain, dan menciptakan karakter peduli pada siswa.
Ia memetakan, aspek peduli itu memiliki banyak arti dan makna. Mulai dari peduli pada diri sendiri, peduli lembaga, peduli sesama, peduli masa depan, dan peduli lingkungan. "Menjadi pribadi peduli itu juga tema besar MPLS kami tahun ini," tambahnya.
Dalam persiapan dan penyusunan program MPLS, pihak orang tua siswa juga turut dilibatkan. Secara garis besar hal itu juga menjadi tanggung jawab sekolah untuk terbuka dan proaktif melibatkan para orang tua. "Saat pra-MPLS orang tua siswa juga hadir. Ada 303 siswa baru yang kami terima tahun ini," paparnya. (iza/laz)
Editor : Satria Pradika