RADAR JOGJA - SMK swasta di Sleman memiliki beban untuk memenuhi daya tampung siswa. Hanya saja, hal ini sulit untuk dipenuhi. Sebab banyak calon siswa yang lebih memilih sekolah negeri.
“Dulu PPDB tutup, isi kelas tidak penuh, ya sudah,” sebut Pamuji Sri Subekti, Kepala SMK Muhammadiyah 2 Turi.
Namun kondisi saat ini, tidak seperti itu. Sebab banyaknya jalur dan lamanya masa pendaftaran di sekolah negeri.
Pamuji juga mengeluhkan banyaknya sekolah negeri yang membuka kelas atau jurusan baru.
Dia sendiri menargetkan untuk bisa menerima 72 siswa untuk dua kelas. Yakni untuk jurusan Teknik Audio Video dan Perawatan.
Namun hingga Minggu (30/6), baru ada 11 orang yang melakukan daftar ulang. Jumlah ini pun tidak berbeda jauh dengan siswa yang diwisudah tahun ini. Hanya berjumlah 13 orang. “Kita berusaha bangkit, kalau masalah kualitas kami tingkatkan terus,” ujarnya.
Peningkatan kualitas, lanjutnya, diwujudkan dengan keberadaan laboratorium dan ketersediaan alat praktik yang memadai. Dia pun memastikan, sekolahnya bisa bersaing dengan sekolah negeri. Terlebih penyelarasan kurikulum dengan dunia industri terus dilakukan.
Sementara soal anggaran, Pamuji berupaya agar calon siswa tidak terbebani. Salah satunya dengan tidak menarik uang gedung. “Jadi dari segi tampilan fisik sekolah tidak terlihat megah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Layanan Pendidikan Balai Dikmen Sleman Wismandari Harimurti menuturkan, PPDB saat ini memang memungkinkan sekolah negeri untuk bisa memenuhi kuota siswa melalui berbagai jalur yang ada.
“Kalau nilainya jelek, tapi bisa jadi masuk jalur afirmasi. Setiap orang bisa masuk dengan jalur berbeda,” katanya.
Meski banyaknya jalur di sekolah negeri, Balai Dikmen tetap memberikan dorongan pada sekolah swasta. Salah satunya melalui pemberian dana Bos. “Kadang masyarakat tidak tertarik ke sekolah swasta karena berbayar,” katanya.
Anggaran ini diberikan untuk seluruh siswa, masing-masing Rp 1,6 juta per tahun. “Ada 110 SMA/SMK (negeri dan swasta, Red) di Sleman. Ada empat sekolah baru yang sudah masuk tahap verifikasi,” kata Wismandari. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika