RADAR JOGJA - Lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) ke perguruan tinggi ternama seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah kebagaan tersendiri, terutama bagi calon mahasiswa ekonomi kurang mampu. Salah satunya Ahmad Yuli Setiawan, anak semata wayang dari pasangan suami istri (pasutri) Riyanta dan Wantinem.
GUNAWAN, Bantul
Sederhananya, SNBP merupakan seleksi masuk PTN tanpa tes bahkan gratis setelah mendapatkan subsidi Uang Kuliah Tunggal (UKT) 100 persen. Selama empat tahun dibebaskan dari biaya pendidikan hingga lulus.
Saat dihubungi pada Kamis (27/6), Ahmad Yuli Setiawan mulai bercerita tentang perjuangannya lolos dalam SNBP 2024. Pria yang akrab disapa Awan, dinyatakan diterima di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.
Mulai dari SMA kelas X,XI,XII semester satu sampai lima nilai akademiknya harus stabil minimal di atas 8. “Mendekati SNBP setelah perangkingan saya kebetulan rangking 6 di sekolah," kata Ahmad Yuli Setiawan saat menjelaskan salah satu syarat pendaftaran SNBP.
Warga Kauman, Wijirejo, Pandak, Bantul itu melanjutkan, pengalamannya dalam sejumlah organisasi semakin memantapkan hati untuk semangat masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SNBP. "Saat menjadi ketua umum organisasi palang merah remaja, saya belajar banyak mengenai public speaking," ujarnya.
Pria kelahiran Bantul, 22 Juli 2005, ini selama studi di SMAN 3 Bantul selain memiliki nilai rapor bagus juga rajin mengikuti berbagai kompetisi PMI, lomba lawatan, pidato hingga cerdas cermat. Seperti juara 2 dan 3 lomba pidato MTQ tingkat kecamatan, 20 besar lomba lawatan. “Serta juara 2 lomba cerdas cermat se-Kabupaten Bantul 2022," ucapnya.
Modal inilah yang membuatnya percaya diri untuk mengejar impian. Sulit rasanya masuk ke perguruan tinggi negeri jalur mandiri, karena terbentur ekonomi. "Saat kecil ikut kakek memandikan sapi, dan sekarang dinyatakan diterima di Fakultas Peternakan (Fapet) UGM 2024 melalui jalur SNBP," ucapnya penuh syukur.
Keinginan masuk Fapet UGM sudah dalam genggaman. Bentuk syukur itu kemudian direalisasikan dalam dunia barunya. Namun untuk urusan jualan sosis, tetap dijalanai seperti biasa. "Saya dari SD sudah biasa jualan mainan," ucapnya.
Sang ayah Riyanta,49, mengaku perasaannya campur aduk antara bangga, haru dan tidak percaya. Dia selama ini merasa tidak banyak berperan atas studi Awan, termasuk memikirkan masuk ke perguruan tinggi. “Ya bagaimana ya karena memang saya tidak ada biaya untuk membayar les waktu SMA. Saya juga masih ada tunggakan di SMA-nya Awan sebesar Rp 1,5 juta,” kata Riyanta.
Dirinya berprofesi sebagai buruh tani dan nyambi jaga malam di SLB dekat rumah. Sementara Wantinem seorang ibu rumah tangga. Namun, kesehatannya menurun setelah sempat jatuh sebanyak tiga kali. (pra)
Editor : Satria Pradika