Seperti yang dilakukan oleh salah satunya dosenya, Prof. Dr. Ir. Gesang Nugroho.
Dalam praktiknya guru besar Fakultas Teknik UGM ini banyak bersinggungan dalam proyek penelitian dalam penciptaan pesawat tanpa awak.
"Mungkin sudah sekitar 12 tahun saya menjalani riset ini," katanya sesaat setelah dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Teknik UGM, Selasa (21/5).
Dalam pidato pengukuhannya, Gesang menyampaikan pidato berjudul Membangun Industri Pesawat Tanpa Awak Indonesia.
Hal tersebut selama bertahun-tahun memang menjadi ranah riset dan kajiannya, pada kesempatan tersebut, turut dihadirkan pula dua pesawat tanpa awak yang merupakan karya Gesang.
"Ini ada dua pesawat, namanya Palapa S-1 dan Palapa S-2. S-2 ini adalah eskalasi atau peningkatan dari edisi sebelumnya," terangnya.
Gesang menerangkan, sesuai namanya, pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) adalah pesawat tanpa adanya awak atau pilot di dalamnya.
UAV umumnya dikendalikan jarak jauh dengan remote control yang biasanya disebut sebagai Remotely Piloted Vehicle (RPV).
"UAV juga bisa bergerak secara otomatis dan dinamis berdasarkan program yang diatur pada sistem komputernya," paparnya.
Dikatakan, bahwa pesawat Palapa S-1 buatannya bisa terbang secara konstan dengan durasi maksimal 6 jam, adapun jarak tempuh yang dicapai mencapai 50 km.
Sementara, unit Palapa S-2 diproyeksikan bisa terbang selama 10 jam dan jarak tempuhnya belum bisa dipetakan secara spesifik.
"Untuk Palapa S-2 bisa dibilang jarak tempuhnya tidak terbatas, karena ini menggunakan satelit, beda dengan sebelumnya yang menggunakan radio," jelasnya.
Dalam ujicoba penerbangan yang dilakukan, pesawat yang dibuat oleh Gesang lebih banyak diproyeksikan untuk pemantauan bencana, salah satunya adalah kebakaran hutan.
Ia membeberkan, cara kerja pesawat buatannya adalah dengan memasukkan titik koordinat, lalu pesawat akan terbang mengikuti koordinat tersebut.
Selama terbang, pesawat nantinya akan mengambil foto dan video, lalu dipancarkan ke ground control station, sehingga pilot atau user bisa mengamati apa yang terjadi di bawah pesawat.
"Ini bisa memantau dan menangkap gambar dengan luasan yang jauh, bisa juga untuk deteksi dini bencana," lontarnya.
Ke depannya, Gesang sendiri optimistis bahwa industri pesawat secara umum di Indonesia akan terus maju, apalagi saat ini kebutuhan pesawat tanpa awak juga terus masif, hal ini turut dibuktikan dengan banyaknya negara yang sudah melakukan produksi massal.
"Saya harap pemerintah bisa mendirikan industri komponen pesawat, karena aspek itu masih minim kita miliki," ujarnya.
"Sekarang pesawat tanpa awak ini sangat dibutuhkan, semua negara sudah mengembangkan dan memproduksinya," tandasnya.
Editor : Bahana.