Dekan FISHUM UIN Sunan Kalijaga Dr. Mochamad Sodik mengatakan, bahwa secara umum Indonesia memang jadi salah satu negara yang rawan dengan berbagai bencana alam atau force majeure, dan sudah sewajarnya potensi bencana tersebut bisa dimitigasi, salah satu dalam skema pembiayaan risiko bencana.
"Selama ini kalau konteksnya bencana nasional itu ditanggung sepenuhnya oleh negara, tapi kesadaran pembiayaan risiko bencana itu juga harus dilakukan," katanya saat ditemui di sela-sela konferensi yang berlangsung di Hotel Grand Rohan, Selasa (7/5).
Dikatakan, pembiayaan risiko bencana bisa datang dari beberapa pihak selain negara, mulai dari lembaga bantuan swasta, hingga perusahaan asuransi dan donasi kolektif masyarakat.
Hal-hal tersebut diakuinya sudah cukup sering dilakukan, hanya saja memang perlu ada pengesahan atau regulasi yang jelas mengatur hal tersebut, sehingga kewaspadaan dan penanganan pada bencana bisa dimitigasi sedini mungkin.
"Ini juga hal yang baik, misal keuangan atau ekonomi negara sedang susah, jadi ada backup pembiayaan dari sektor lain," ungkapnya.
Lebih lanjut, selain menggandeng BRIN, konferensi tersebut juga melibatkan langsung para stakeholder kebencanaan seperti badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), badan nasional penanggulangan bencana (BNPB), badan pengelola dana lingkungan hidup (BPDLH) hingga perusahaan asuransi.
"Perusahaan asuransi berperan penting untuk identifikasi, mengukur, dan mengelola risiko yang mungkin terjadi," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Tata Kelola, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat dari BRIN Dr. Agus Eko Nugroho turut mengungkapkan, bahwa kondisi Indonesia yang memang cukup rawan dengan banyaknya potensi bencana harus jadi concern semua pihak.
"Selain negara, masyarakat, perusahaan hingga pendidikan tinggi ini harus concern juga," sebutnya.
Disebutnya, perguruan tinggi memiliki peranan yang cukup signifikan dalam prosesnya, mulai dari banyaknya resource peneliti yang kerap menjalankan riset hingga demografi SDM yang juga mumpuni dan peka pada skema pembiayaan risiko bencana.
Baca Juga: Sebanyak 19 KK di Daerah Grobogan Nekat Tinggal di Hutan Keramat Tanpa Listrik, Begini Kondisinya
Baca Juga: Playoff Olimpiade Indonesia Vs Guinea Akan Disiarkan di TV Nasional, Catat Jadwal Pertandingannya!
Ke depannya, Agus berujar bahwa kolaborasi antara BRIN dengan perguruan tinggi juga akan terus dilakukan secara lebih masif.
"Dengan UIN ini baru kick off, kami akan lakukan secara reguler dan menggandeng perguruan tinggi lainnya," bebernya.
Selanjutnya, beberapa target dari konferensi tersebut antara lain yakni menghasilkan policy brief yang bersumber dari gagasan dan riset yang dilakukan peneliti BRIN dan gagasan dari para peserta kegiatan tersebut.
"Kami coba fokus pada identifikasi praktik dan mengusulkan solusi inovatif dalam menyusun strategi pembiayaan risiko bencana," paparnya.
Selain itu, juga akan ada pemberitaan di media massa dan informasi di media sosial yang diharapkan dapat mendorong diskusi publik untuk meningkatkan kesadaran terkait pembiayaan risiko bencana.
Lalu, akan dibentuk juga jaringan yang anggotanya pakar, praktisi, pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan yang relevan dari latarbelakang akademik,
pemerintah, industri, dan masyarakat sebagai media pertukaran informasi dan kerjasama berkelanjutan.
"Kita kuatkan hubungan riset dan industri dalam mendukung pengembangan dan implementasi skema pembiayaan risiko kebencanaan," tandasnya
Editor : Bahana.