Upaya ini dilakukan dalam sinergi program Jurnalistik Goes to School.
Kerjasama itu bagian dari wujud komitmen bersama dalam memperluas pengetahuan tentang media massa ditengah semua lapisan masyarakat.
Jurnalistik goes to school di SD Muhammadiyah Al Mujahidin merupakan dedikasi Radar Jogja yang terangkum dalam rubrik akademica.
Saat diklat, Radar Jogja dihadiri oleh Pemimpin Redaksi (Pimred) Radar Jogja Zaki Mubarak, Dewan Redaksi Joko Suhendro, Fotografer Elang Kharisma Dewangga dan Manager Pemasaran Nanang Febrianto.
Kepala SD Muhammadiyah Al Mujahidin Wonosari Joko Kiswanto mengatakan, kolaborasi ini menjadi upaya sekolah untuk menjawab tantangan peningkatan pelayanan pendidikan di era modern.
Dia menjelaskan, dengan menggabungkan kegiatan sekolah dengan Radar Jogja, kerjasama dirancang untuk mewujudkan solusi inovatif dan berkelanjutan bagi lembaga pendidikan.
Selain sebagai wahana untuk menambah wawasan akan ketrampilan jurnalistik, juga meningkatkan khasanah keterampilan menyampaikan pesan/ide agar dapat diterima khalayak dengan mudah dan bahasa komunikatif.
"Adalah upaya kami yang signifikan untuk memperkaya khasanah ilmu jurnalistik di sekolah," ujarnya.
Terlebih, SD Muhammadiyah Al Mujahidin memiliki program unggulan Jurnalis Cilik. Kegiatan yang diikuti oleh anak-anak tersebut salah satu tujuannya meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
"Peserta didik dilatih meningkatkan kemampuan berpikir kritis dengan cara menjadi jurnalis sekolah," ucapnya.
Konsistensi ini selaras dengan program Radar Jogja Jurnalistik go to School. Mengingatkan banyak pihak supaya membaca dan menulis.
Sebagaimana permulaan ayat-ayat Al-quran, yakni surah Al-Alaq ayat 1-5 yang berisi perintah 'membaca'.
"Mengapa? karena tanpa bisa membaca seorang tidak akan bisa memahami apa pun yang sedang dan akan dikerjakannya," terangnya.
Nuun Walqolami Wamaa Yasthuruun, yang artinya nuun, demi pena dan apa yang dituliskannya.
Iqro, baca dan menulis adalah satu hal yang tak terpisahkan.
"Dengan kata lain, perintah iqra tidak hanya membaca tulisan, tetapi juga dengan pendalaman situasi atau fenomena sosial yang terjadi," bebernya.
Kemudian Joko Kiswanto juga mengutip kata motifasi dari Khalifah ke 4 Ali Bin Abi Thalib: Semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan dirimu di akhirat kelak.
Seorang pemikir besar Imam Al- Ghazali juga mengatakan 'Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis'.
"Karena dengan karya akan dikenang sepanjang massa," ungkapnya.
Menurutnya ilmu jurnalistik sangat bermanfaat bagi pembelajaran. Pelatihan secara langsung dengan menggandeng pekerja media dinilai positif dan efisien.
"Karena tidak semua ilmu bisa dicari di internet. Kami juga ingin menyampaikan bahwa, wartawan adalah salah satu profesi mulia selain bidang kerja yang lain," bebernya.
Sementara itu, Pimred Radar Jogja Zaki Mubarak membeberkan meteri berjudul 'tips liputan asyik dan mengenal berita layak muat'.
"Tidak semua informasi layak ditulis sebagai 'berita'. Tergantung bobot atau nilainya. Makin tinggi
bobot, makin layak jadi 'berita utama' (headline)," kata Zaki.
Dikatakan, syarat layak tulisan muat ada dalam '10 rukun iman berita Jawa Pos Group.
Syarat berita yang layak muat adalah tokoh, peristiwa besar, dekat dengan peristiwa, pertama terjadi, human inters, punya misi, unik, ekslusif, tren dan prestasi.
"Bahasa media harus ringkas-efisien, jelas-efektif, populer dan inovatif," terangnya.
Pada sesi berikutnya, fotografer Elang Kharisma Dewangga juga mengungkapkan bagaimana tips memotret mode jurnalistik.
Dia juga mengajak audien untuk praktik dan review langsung.
"Foto jurnalistik tidak sekadar asal jepret, tapi harus ada pesan di dalamnya. Foto jurnalistik merupakan perpaduan antara kata dan gambar," kata Elang.
Selaku Dewan Redaksi Joko Suhendro berharap, kegiatan diklat jurnalistik berdampak positif terhadap dunia pendidikan.
"Agar program diklat jurnalistik tidak terhenti sampai disini, nanti bisa lanjut pembelajaran materi daring. Dilanjutkan dengan membuat grup WA (WhatsApp)," kata Joko.
Terpisah, peserta diklat Zulaeha dan Anis Hidayah mengakui bahwa kegiatan diklat jurnalistik sangat luar biasa manfaatnya, karena banyak ilmu baru yang diperoleh.
"Misal foto, ternyata foto jurnalistik tidak sekadar asal memfoto, tapi harus ada pesan di dalamnya. Ini ilmu baru bagi kami," kata Zulaeha.
Guru mata pelajaran (mapel) bahasa Arab itu melanjutkan, pengetahuan tentang tips foto jurnalistik perlu diketahui masyarakat luas.
Wabilkhusus tenaga pendidik karena bisa untuk transfer ilmu.
"Baik ilmu penulisan, teknik foto. Sangat membantu kami dalam memberikan informasi dalam dunia pendidikan," kata Zulaeha.
Lalu bagi peserta diklat lainnya, Anis Hidayah mengaku lebih inters ke penulisan jurnalistik. Dengan diklat tersebut pihaknya menjadi tau dasar-dasar penulisan jurnalistik.
"Tadi disampaikan, setelah kegiatan ini dilanjutkan dengan membuat grup WA sehingga kami bisa latihan lanjutan jurnalistik. Kalau tidak ada kelanjutan menjadi sia-sia," kata Anis Hidayah.
Editor : Bahana.