Mereka baru saja melangsungkan seminar bedah dan diseminasi buku, Mitos Vs Fakta: Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global, yang berlangsung di Auditorium Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM, Sabtu (4/5).
Ketua Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UGM Dr. Jangkung Handoyo Mulyo mengatakan, jika membicarakan secara historis, sawit memang bisa dikategorikan sebagai rising star.
"Sawit ini rising star, tahun 90an sawit baru dilirik industri, beda dengan entitas lain yang lebih dulu masuk dan bersaing di industri. Namun kini kebutuhan dan kebermanfaatan sawit banyak sekali," katanya.
Menurutnya, penting untuk memahami dengan baik positioning sawit, baik dalam konteks akademik atau konteks industri.
Dikatakan, bahwa sawit memiliki pangsa pasar yang besar dan permintaan yang terus stabil bahkan bertambah di market global.
"Forum ini penting untuk para mahasiswa dan akademisi, untuk bisa membantu peningkatan dan kualitas dalam konteks riset," ungkapnya.
"Kita pahami, kebutuhan sawit di Uni Eropa tinggi, dan harus dipastikan bahan bakunya dari renewable energy atau energi terbarukan," imbuhnya.
Selanjutnya, seruan senada turut disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian UGM Ir. Jaka Widada.
Secara umum ia menilai bahwa komoditas sawit merupakan sesuatu yang sangat menarik dan masa depan industri serta bahan baku industri salah satunya ada di kelapa sawit.
"Banyak elemen industri terbantu dan memanfaatkan sawit, ini prospek yang sangat besar, banyak negara juga sudah mengkonversi sawit menjadi berbagai energi dan inovasi lain," ujarnya.
Jaka menilai, penting bagi seluruh elemen dan stakeholder sawit untuk terus memiliki kesadaran kolektif membangun industri sawit yang ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan.
"Mari bangun industri sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, ini masa depan bersama dan butuh kolaborasi antara akademisi dan praktisi industri," pesannya.
Sementara itu, Kepala Divisi UKMK BPDPKS Helmi Muhansyah memaparkan, bahwa secara fungsional BPDPKS memang punya tanggungjawab untuk terus mengawal sawit berkelanjutan, program tersebut juga di desain untuk aksesibel pada semua pihak.
"Kami promosikan kebaikan kelapa sawit, kami juga beri pelatihan pada petani sawit hingga beasiswa untuk putra-putri mereka," terangnya.
Untuk sektor perguruan tinggi, Helmi juga menyebut bahwa hal tersebut merupakan salah satu pilar penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sawit, salah satunya melalui berbagai riset yang dilakukan oleh akademisi.
"Kami punya agenda rutin bagi mahasiswa dan akademisi untuk terus melakukan riset dan penelitian seputar sawit," tuturnya.
Disebutnya, untuk di Jogja mungkin memang tidak ada pohon sawit, tapi masyarakatnya sendiri juga tidak bisa lepas dari produk-produk sawit, mulai dari berbagai komponen di kamar mandi, aspal, minyak, hingga berbagai olahan makanan.
"Sawit ini ada dan dekat dengan kita, dari kontribusi ekonomi juga sangat penting dan terus memberi sumbangsih pada negara," tandasnya.
Editor : Bahana.