Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Banyak Mahasiswa Pendatang ke DIY Jadi Hal Positif, Juga Harus Dibarengi Kualitas SDM yang Berdaya Saing

Fahmi Fahriza • Selasa, 20 Februari 2024 | 22:31 WIB
TERBUKA: Sesi diskusi publik yang menghadirkan Guru Besar Fakultas Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Prof Djoko Budiyanto.
TERBUKA: Sesi diskusi publik yang menghadirkan Guru Besar Fakultas Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Prof Djoko Budiyanto.

JOGJA - Tak dimungkiri sampai saat ini DIY masih jadi salah satu daerah jujukan favorit pendatang dari berbagai daerah untuk keperluan sekolah.

Itu baik untuk jenjang SMA/SMK, ataupun di perguruan tinggi.

Secara umum, banyaknya kuantitas pendatang tersebut merupakan hal yang positif dan selaras dengan entitas Jogja sebagai Kota Pelajar.

Namun, kuantitas tersebut juga perlu dibarengi dengan kualitas SDM yang tinggi dan berdaya saing.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Industri Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Prof Djoko Budiyanto.

Djoko mengatakan, secara garis besar dengan banyaknya anak-anak muda pendatang ke DIY memang jadi hal yang positif.

Ini merupakan potensi besar untuk bisa mendongkrak beberapa sektor penting seperti perekonomian, industri kreatif, hingga pendidikan. 

"Pendidikan tinggi memberi banyak value pada mahasiswa, DIY sebagai Kota Pendidikan itu potensial karena demografi anak mudanya juga tinggi," katanya, Selasa (20/2).

Kendati demikian, Djoko memaparkan, bonus demografi tinggi saja tidak cukup. Anak-anak muda tersebut harus memiliki daya saing dan kualitas yang mumpuni sebagai SDM.

Disebutnya, banyak aspek yang bisa mereka manfaatkan dalam proses pengembangan dan peningkatan kualitas diri.

Itu mulai dari aspek sosial budaya, trend dan lifestyle hingga perkembangan digitalisasi teknologi saat ini.

"Mereka harus berdaya saing tinggi, termasuk juga di dunia yang sekarang serba digital ini," pesannya.

Apalagi, ia juga melihat bahwa cukup banyak fenomena anak-anak muda, termasuk para pendatang, yang kini mulai berwirausaha di DIY.

Selain sebagai upaya mendapatkan safety net, hal tersebut juga mengindikasikan bahwa banyak dari mereka yang masih ingin stay di DIY. Sekalipun, pendidikan mereka telah selesai.

Salah seorang pendatang yang turut menerapkan konsep tersebut adalah Rois Noviantoro. Perantau asal Ngawi ini awalnya hanya berniat untuk kuliah di DIY.

Kini sudah memasuki tahun ke-10 di Jogja. Dia pun memiliki usaha di bidang kuliner.

"Dulu rencana awal hanya kuliah, tapi banyak hal yang terjadi dan memutuskan stay di Jogja, sampai sekarang," bebernya.

Saat disinggung terkait peningkatan kualitas diri dan upaya bersaing dengan para pendatang lainnya, Rois berujar, memang penting untuk terus meningkatkan kualitas diri. Hal tersebut yang juga dilakukannya.

"Saya banyak ikut komunitas, ngobrol, dan ketemu banyak orang dari berbagai daerah, itu saya rasa penting dan harus dilakukan," pesannya.

Rois bercerita, ada banyak orang seperti dirinya yang memutuskan stay di Jogja dalam waktu lama setelah menyelesaikan kuliah.

"Saya banyak kenal dan ikut komunitas wirausaha, itu banyak yang ceritanya mirip saya juga," lontarnya. 

Ia menyampaikan, salah satu faktor yang membuatnya menetap hingga sekarang adalah sosial budaya dan masyarakat Jogja. 

Selain itu, ia menilai banyaknya anak-anak muda pendatang juga jadi faktor penting baginya.

"Banyak anak-anak muda pendatang di sini, itu bermanfaat untuk saya baik dari segi bisnis atau individu," tandasnya. (iza)

Editor : Amin Surachmad
#kota pelajar #STay #DIY #UAJY