SLEMAN - Ratusan mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan baru saja menyambangi Pondok Pesantren Bidayatussalikhin.
Adapun kunjungan tersebut dimaksudkan untuk studi banding terkait praktik layanan BK Krisis dan praktik layanan BK Keluarga di pondok tersebut.
Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Bidayatussalikhin Abdullah Denny Setiawan mengatakan, inti kunjungan dari UAD adalah para mahasiswa ingin belajar atau studi banding terkait cara menangani para santri dengan latar belakang mantan pengguna narkoba.
"Bisa dibilang ini rehab jalur religi dengan metode pendekatan manajemen santri. Jadi, religi dikombinasikan dengan akademis," katanya, Kamis (18/1).
Abdullah mengungkapkan, pihak pondok menangani anak-anak yang pernah terjerat narkoba untuk menyadarkan.
Dengan demikian, mereka tak hanya bisa berkegiatan di pondok. Mereka juga bisa belajar di ponpes hingga hidup bersosial.
Disebutnya, secara umum Pondok Bidayatussalikhin sudah beberapa kali menerima kunjungan dari beberapa universitas.
Di antaranya, Unnes Semarang, dan UMY. Kunjungan UAD kali ini merupakan kunjungan yang kedua kali.
"Mahasiswa yang hadir ini mungkin sekitar 130-an, dan kami sambut baik kunjungan mereka, ini diniatkan untuk sama-sama belajar," sebutnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Program Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren Salafiah (PKPPS) Arifah Kusumaningsih menyebut, para santri harus melewati tahapan treatment terlebih dahulu.
"Ketika sudah cukup stabil baru mereka Kamis persiapkan masuk sekolah," ungkapnya.
Dikatakannya, seluruh santri yang masih memungkinkan melanjutkan pendidikan sesuai usianya akan diarahkan untuk sekolah menyesuaikan jenjangnya.
Santri yang kuliah juga akan diberikan fasilitasi untuk kuliah.
Arifah berharap, mereka bisa memiliki kesempatan kedua untuk meraih masa depan yang lebih baik.
"Di sini mereka korban penyalahgunaan narkoba, tidak bisa dilabeli sebagai pecandu," tandasnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad