RADAR JOGJA - SMP Negeri 5 Kebumen, Jawa Tengah, menjadi pionir sekolah anti perundungan di Kebumen.
Kesamaan persepsi dan komitmen kuat, menjadi kunci sekolah ini terbebas dari aksi perundungan.
Berbagai upaya terus dilakukan jajaran SMPN 5 Kebumen, agar sekolah yang berlokasi di Jalan Sokarno-Hatta Kebumen ini tak menjadi sarang segala jenis kekerasan.
Kepala SMPN 5 Kebumen Tjandra Agustina Dewanti menyatakan, aksi perundungan atau bullying masuk dalam catatan hitam dunia pendidikan.
Hingga saat ini, fenomena tersebut masih menjadi momok yang menakutkan. Tak jarang siswa mendapat kekerasan fisik maupun psikis di lingkungan sekolah.
Atas kondisi ini, perlu adanya penanganan secara terukur dan komprehensif. "Kami bukan sekadar wacana.
Sudah banyak bukti melalui gerakan dan aksi nyata," katanya kepada Radar Jogja.
Bagi Tjandra, iklim keamanan dan kenyamanan sekolah merupakan syarat mutlak yang harus ada di sekolah.
Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan memberikan pengaruh buruk terhadap proses pembelajaran.
"Kalau sudah tidak kerasan sekolah. Dampaknya tentu penurunan capaian akademik dan non akademik," jelasnya.
Tjandra menyebut, pihaknya kini juga telah membentuk satuan petugas (Satgas) anti perundungan di sekolah.
Satgas tersebut dibentuk dari perwakilan unsur komite sekolah, guru, karyawan, serta orang tua siswa.
"Sudah terbentuk koordinator. Ada 11 orang. Mereka masuk dalam tim pencegahan dan penanganan kekerasan (TPPK)," jelasnya.
Dalam melaksanakan tugasnya, satgas tersebut berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Antara lain jajaran kepolisian, dinas terkait hingga psikolog dalam penanganan kasus perundungan.
“Dengan kolaborasi ini, diharapkan menjadi tegas lagi bahwa kami terjauhkan dari segala tindakan kekerasan,” tegasnya.
Tjandra menerangkan, dengan pembentukan satgas ini, juga menjadi bukti keseriusan pihak sekolah dalam upaya pencegahan dan penanganan aksi prundungan.
Langkah ini sebagai penjabaran regulasi yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023.
"Sekarang sudah ada 30 duta anti kekerasan dari elemen siswa," lanjutnya.
Selain guru, semangat memerangi bullying juga dilakukan kalangan siswa.
Pada Mei 2023, para siswa SMPN 5 Kebumen punya cara tersendiri dalam menciptakan lingkungan belajar agar bebas dari praktik perundungan.
Mereka menolak keras aksi kekerasan di lingkungan sekolah lewat poster.
Tak hanya itu, siswa juga berekspresi mengecam segala aksi perundungan lewat kreasi tari.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kebumen Yanie Giat Setyawan mengapresiasi langkah pencegahan bullying yang dicanangkan SMPN 5 Kebumen.
Berbagai terobosan tersebut patut menjadi inspirasi sekolah lain.
"Sangat bagus programnya. Sejatinya semua punya peran penting membangun sekolah supaya aman dan nyaman," ucapnya. (fid/jko)
Aksi Nyata SMPN 5 Kebumen Tolak Perundungan :
* Deklarasi anti perundungan
* Pembentukan Tim Pencegahan dan Penangan Kekerasan di Satuan Pendidikan (TPPK-SP)
* Penyamaan persepsi antara warga sekolah, orang tua dan masyarakat tentang bahaya perundungan
* Pembentukan Duta Anti Perundungan setiap kelas
* Sosialisasi anti perundungan secara masif di berbagai kegiatan
* Optimalisasi kampanye anti perundungan melalui media sosial, program P5, poster dan kesenian tari.
* Keterlibatan psikolog dan instansi terkait dalam penanganan perundungan
* Membuat kotak laporan atau kanal aduan guna memudahkan penanganan bullying