RADAR JOGJA - Istilah “Kota Pelajar” sangat lekat disematkan untuk kota Yogyakarta.
Istilah atau julukan tersebut sudah sangat terkenal sejak bertahun-tahun lamanya.
Belum ada hasil penelitian yang bisa menjelaskan mengapa Yogyakarta mendapat julukan tersebut.
Namun hal yang biasa ditebak karena banyaknya pusat-pusat pendidikan yang berada di kota ini.
Hal tersebut menarik minat para pelajar untuk datang dan mengenyam pendidikan di Yogyakarta.
Dikutip dari Inews Jogja, Kurniawati berpendapat bahwa citra Yogyakarta sebagai Kota Pelajar didapatkan dari simbol-simbol pendidikan yang dimiliki oleh kota ini.
Simbol-simbol tersebut berupa simbol fisik maupun simbol sosial.
Simbol fisik yang mempengaruhi Yogyakarta mendapat julukan Kota Pelajar yaitu banyaknya pusat pendidikan yang ada di kota ini.
Fasilitas yang lengkap membuat minat dan daya tarik yang tinggi bagi para pelajar yang ingin menuntut pendidikan di kota Jogja.
Pusat-pusat yang terkenal tersebut seperti adanya Universitas Gadjah Mada yang menjadi universitas pertama yang didirikan setelah kemerdekaan.
Berdirinya UGM ini menjadi pelopor berdirinya institusi-institusi pendidikan lainnya dengan berbagai fokus pendidikan seperti kesenian dan keagamaan.
Berdasarkan data yang berasal dari website pemerintah kota Yogyakarta, saat ini jumlah perguruan tinggi baik universitas negeri, swasta, institut, sekolah tinggi, dan akademi yaitu sekitar 168.
Dengan banyaknya institusi pendidikan yang ada di Jogja tersebut, tidak heran jika Kota Yogyakarta dijuluki sebagai Kota Pelajar.
Berikut simbol-simbol sosial yang menunjukkan citra Kota Pelajar pada Kota Yogyakarta, seperti;
Adanya Irisan dan Korelasi antara Pendidikan dan Kebudayaan atau Pariwisata
Julukan Kota Pelajar ini tidak lepas dari kental kebudayaan yang ada di Jogja.
Kedua unsur tersebut menjadi sebuah relasi yang saling beririsan.
Adanya pendidikan pasti juga kental dengan kebudayaan, karena jika berbicara tentang pendidikan tidak lepas dengan budaya.
Pendidikan tidak hanya diambil dari unsur pembelajar secara formal, namun juga berbicara non formal melalui kebudayaan.
Kentalnya budaya yang dimiliki kota Yogyakarta ini dapat dijadikan sebuah media untuk melakukan pembelajaran.
Kemudian melalui kebudayaan tersebut menciptakan sektor pariwisata.
Melalui kegiatan wisata tersebut seseorang akan berkenalan dengan Yogyakarta, sehingga menimbulkan daya tarik untuk tinggal dan mengenyam pendidikan disini karena rasa nyaman yang diciptakan melalui sektor pariwisata tersebut.
Hal ini menjadi simbol sosial Kota Yogyakarta disebut sebagai Kota Pelajar.
Peran Keraton Yogyakarta
Sri Sultan Hamengkubuwono IX memiliki peran yang strategis dalam perkembangan pendidikan di Yogyakarta.
Peranannya sangat terasa saat pembangunan Universitas Gadjah Mada (UGM ) pertama kali.
Dimana Sri Sultan memberikan atau menfasilitasi bangunan pertama UGM di Keraton Yogyakarta, sebelum akhirnya bangunan resmi pindah ke Bulaksumur.
Dengan peranannya tersebut menunjukkan bahwa Sri Sultan Hamengkubuwono sangat peduli dengan pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa.
Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara sering disebut sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Beliau adalah pejuang pendidikan Indonesia yang berasal dari Yogyakarta.
Beliau sangat berjasa terhadap pendidikan di Indonesia melalui berbagai pemikirannya yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai pedoman pengembangan pendidikan Indonesia.
Untuk terus mengingat dan mengenang jasanya, hari lahirnya dijadikan sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Ki Hajar membangun sekolah pertama kali yang diperuntukkan bagi masyarakat pribumi dinamakan Taman Siswa. (Annida Muthi’ah)
Editor : Bahana.