SLEMAN - Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja memasuki usia ke-14 tahun telah mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkualitas.
Hampir 50 persen mahasiswa sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, sebelum lulus kuliah.
Hal ini disampaikan Dekan Sekolah Vokasi UGM Agus Maryono pada Rapat Terbuka Senat Puncak Dies Natalis ke-14 Sekolah Vokasi UGM, Jumat (27/10/2023).
Dia mengatakan terjadi tren kenaikan mahasiswa yang di-hire perusahaan sebelum lulus, dari tahun ke tahun mengingkat.
Baca Juga: Sekolah Vokasi UGM kembali Adakan Seminar Nasional Teknologi Terapan Tahun 2023"43,39 persen dapat pekerjaan sebelum lulus. Ini suatu perkembangan, dulu hanya 30 persen sekarang meningkat 43,39 persen mahasiswa dapat pekerjaan sebelum lulus," ujarnya.
"Suatu yang luar biasa, hampir 50 persen mahasiswa masuk vokasi punya harapan bisa dapat pekerjaan sebelum lulus," lanjutnya.
Sedangkan proyeksi dari segi lulusan, Agus menyebut setidaknya 84,7 persen alumni bekerja atau melanjutkan pendidikan. Kemudian ada 15,39 persen alumni yang masih mencari pekerjaan.
Meski begitu, para alumni juga aktif melakukan temu alumni dan career development. Sehingga bisa saling memberikan informasi dan menangkap peluang karir maupun bisnis antaralumni.
"Jadi ada sesuatu yang menggembirakan. Dari 84,7 persen, itu 81 persen kerja penuh waktu dan hanya 19 persen kerja paruh waktu, ini satu hal yang bagus," jelasnya.
Baca Juga: Vokasi UGM Ajak Mahasiswa Bersaing di Kancah InternasionalSementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Konstruksi Kementerian PUPR Rachman Arief Dienaputra mengatakan pendidikan vokasi memiliki peranan yang sangat vital. Setidaknya, ada tiga peran penting dalam pembangunan negara.
"Pendidikan vokasi bukanlah pilihan kedua, melainkan pilihan yang setara dengan pendidikan formal lainnyn. Dan kita harus menghargainya dengan sebaik-baiknya," ujarnya.
"Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas pendidikan vokasi di seluruh negeri," lanjutnya.
Lebih lanjut, Arief menjelaskan tiga peran penting pendidikan vokasi bagi pembangunan. Pertama, pendidikan vokasi memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja.
Terlebih, terjadi tren tingkat pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi terus meningkat.
Baca Juga: Disbud Jogja Gelar FSY 2023, Wujud Komitmen Kembangkan Sastra"Dengan pendidikan vokasi yang terstruktur dengan baik, para lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, yang akan membantu mereka mendapatkan pekerjaan dengan lebih mudah," jelasnya.
Kemudian, dia menyebut pendidikan vokasi berperan dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing, khususnya bidang ekonomi.
Dengan lulusan pendidikan vokasi yang berkualitas, sektor industri dan bisnis akan memiliki tenaga kerja yang terampil dan dapat menghadapi persaingan global.
Baca Juga: Dongkrak Perekonomian Masyarakat lewat Bangunjiwo Fest"Pendidikan vokasi menciptakan kesempatan untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Dengan keterampilan yang dimiliki oleh lulusan vokasi, mereka dapat menjadi wirausahawan dan menciptakan lapangan kerja sendiri," ujarnya.
"Hal ini tidak hanya mengurangi angka pengangguran, tetapi juga memberdayakan individu untuk menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi," imbuhnya. (lan).