RADAR JOGJA - Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja Prof Al Makin mengatakan pentingnya menulis bagi peradaban. Tulisan seseorang menjadi warisan abadi yang akan terus ada, berbeda dengan kekayaan dan jabatan yang sangat mudah dilupakan.
"Memang saat, kalau kita masih hidup, ya ekonomi (punya kekayaan, red), kedudukan ya gagah. Tapi, ketika sudah meninggal yang diingat adalah tulisannya dan warisan dunia sama to," ujarnya, Rabu (13/9/2023).
"Semua ilmu pengetahuan yang jadi buku dan artikel ya akan abadi, yang tidak ditulis ya akan hilang," tegasnya.
Al Makin mengiyakan banyak sejarah dan warisan kebudayaan di Indonesia yang tidak ditulis dan akhirnya hilang begitu saja. Nenek moyang Indonesia memiliki kecenderungan gemar bertutur daripada menulis. Dicontohkan beberapa hal yang hilang dan masih terus mengada karena dituliskan.
"Borobudur dan Prambanan banyak yang tidak ditulis, hilang. Tapi yang ditulis kayak simbol kita, kayak Sutasoma, Negarakertagama, masih sampai sekarang. Tapi yang tidak ditulis, banyak yang hilang," jelasnya.
"Betul, setuju saya (peradaban yang tak ditulis hilang, red). Dan kata Pramoedya Ananta Toer, yang menulis ya akan abadi, yang tidak menulis ya hilang," imbuhnya.
Menyoal ihwal tidak wajibnya skripsi sebagai syarat kelulusan mahasiswa Strata 1 (S-1), Al Makin menilai masih sangat penting. Terutama bagi profesi yang berkaitan dengan keilmuan.
"Ya skripsi, thesis, disertasi dalam bidang keilmuan yang berkait erat dengan karir akademik mahasiswa, masih tetap penting," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Makarim tidak mewajibkan mahasiswa strata 1 (S1) membuat skripsi sebagai syarat ketulusan. Kebijakan ini tertuang dalam Permendikbudristek Nomor 53 tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.
Al Makin menyebut, memang ada beberapa ilmu yang harus memiliki kegiatan menulis. Dan ada beberapa bidang yang dekat dengan vokasi dan praktik lapangan yang tidak harus menulis. Hal ini memang ada dan bisa disesuaikan.
Bagi mahasiswa S-1, meski tidak diwajibkan skripsi namun penting untuk tetap menulis artikel ilmiah. Kegiatan menulis dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, termasuk menumbuhkan empati.
"Tapi, kalau bidang seperti filsafat, pendidikan juga sama, hukum, komunikasi dan bidang-bidang ilmu inti, itu menulis masih sangat penting. Terutama jika orang itu ingin berkarir di bidang akademik, ingin jadi dosen, meneruskan S2, S3, ingin jadi guru besar, menulis tetap penting," paparnya.
Senada, Rektor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogja Muchlas mengatakan penerapan non skripsi tidak bisa dilakukan secara merata. Bagi mahasiswa yang ingin berkecimpung di ranah akademisi dan sejenisnya maka harus menempuh jalur skripsi. Namun bagi yang membutuhkan vocational skill bisa dengan jalur non skripsi.
"Buat saya secara umum tidak masalah, asal disikapi moderat dan pertimbangan tertentu," ujarnya.
"Jadi harus dilihat-lihat, kalau nanti diberlakukan penuh, nanti kita yang akan rekruitmen dosen dan peneliti kan jadi sulit. Bagaimana bisa kalau yqng bersangkutan tidak memiliki keterampilan problem solving secara ilmiah melalui proyek-proyek skripsi," lanjutnya. (lan).
Editor : Amin Surachmad