Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Informasi Terkait Pemilu bagi Milenial Minim, KPU DIY Gencarkan Sosialisasi

Annissa Alfi Karin • Kamis, 24 Agustus 2023 | 01:06 WIB
SOSIALISASI: Ketua KPU DIy Hamdan Kurniawan saat memberikan paparan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Rabu (23/8). (Alfi Annissa Karin/ Radar Jogja)
SOSIALISASI: Ketua KPU DIy Hamdan Kurniawan saat memberikan paparan di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Rabu (23/8). (Alfi Annissa Karin/ Radar Jogja)

 

JOGJA - Beberapa bulan ke depan Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi, yakni pemilu pada 2024. Keterlibatan pemilih pemula menjadi hal yang penting.

Utamanya di wilayah Jogjakarta dengan banyaknya jumlah mahasiswa yang ada. Namun, sebagian pemilih pemula merasa sosialisasi terkait pemilu terbilang kurang.

Salah satunya, bagi mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Jogjakarta, Afifah. Perempuan generasi Z berusia 21 tahun ini mengaku belum banyak informasi yang dia dapatkan soal pemilu. Bahkan, melalui sosial media sekalipun.

"Yang saya rasakan masih kurang (sosialisasi) untuk yang anak muda. Kita malah lebih dapatnya informasi hoax, yang buruk-buruk. Kalau poin-poin penting dari badan pemilunya langsung, kurang dapat, ya, masih minim," kata Afifah saat ditemui di UST Jogjakarta, Rabu (23/8).

Alih-alih mendapatkan informasi soal pemilu, Afifah justru kerap kali menemui berita hoax. Situasi ini menjadikan dirinya harus lebih selektif dalam menerima informasi. Termasuk informasi yang berkaitan dengan pemilu.

"Kita masih muda, terkadang mudah terpancing, tapi setelah dipikir lagi (berita) pasti ada sisi negatif dan positifnya. Kita ambil jalan tengahnya saja. Mungkin itu hanya hoax-hoax semata. Kita mikir positifnya, pasti (hoax) itu cuma rekayasa saja," tuturnya.

PeBaca Juga: Ditanya Soal Suasana Kontestasi Pemilu 2024, Megawati: Seperti Orang Berdansa

Afifah khawatir minimnya informasi soal pemilu menjadikannya salah dalam memilih pemimpin. Untuk itu, dia memastikan kredibilitas calon legislatif maupun eksekutif dengan riset melalui internet. Tak mau ambil risiko, dia akan memilih calon yang benar-benar memiliki track record baik. Salah memilih pemimpin baginya akan turut berdampak selama lima tahun ke depan.

"Saya cuma lihat dari sosmed saja. Ada beberapa yang track recordnya buruk, tapi masih bisa dicalonin. Kita juga masih tanda tanya, kok bisa lolos itu kita juga kurang tahu. Mungkin carinya yang pasti-pasti positif aha. Soalnya kalau riwayatnya sudah jelek, kita juga mikir dua kali," tambahnya.

Ketua KPU DIY Hamdan Kurniawan menuturkan pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait pemilu kepada para pemilih pemula. Salah satunya digelar bersama RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) di UST Jogjakarta, Rabu (23/8).

"Dari beberapa forum yang kami ikuti memang sebagian mahasiswa masih minim informasi. Itu yang saya dapatkan saat keliling ke kampus. Gelaran seperti ini sangat membantu mahasiswa untuk memahami secara utuh soal pemilu," kata Hamdan.

Dia menyebut, sebenarnya antusias pemilih pemula terbilang tinggi. Dia mencatat setidaknya ada 18 ribu pemimpin pemula dari kalangan mahasiswa, santri di pondok pesantren, hingga pemilih pemula yang tengah menjalani masa tahanan.

"Kalau mengacu ke pemilu 2019 angkanya kan 57 ribu. Kita masih menunggu antusiasme mahasiswa untuk menggunakan hak pilih di Jogjakarta ini. Terutama mahasiswa luar atau rantau. Ini baru sepertiganya. Tapi dari beberapa pertemuan yang saya ikuti, mereka masih antusias mengikuti pemilu di Jogjakarta," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala LPP RRI Jogjakarta Nazwin Achmad menuturkan pihaknya berperan dalam menyediakan informasi terpercaya. Sekaligus menjadi rujukan berita soal pemilu. Di sisi lain, RRI juga berperan dalam sosialisasi pemilu melalui berbagai programnya. Pemilih pemula juga menjadi salah satu fokusnya. Ini karena generasi ke depan akan dilanjutkan oleh generasi pemilih pemula.

"Kalau ditarik dengan bonus demografi kemudian generasi yang ke depan ini lebih banyak memang kepada generasi pemula. Oleh karena itu konsentrasi RRI juga ikut di situ. Bagaimana generasi pemula ini diberikan edukasi, pemahaman, pendidikan melalui program-program kami khususnya pendidikan berpolitik. Kemudian bagaimana partisipasi dalam pesta demokrasi ini tepat posisinya sebagai generasi muda," ungkapnya. (isa)

Editor : Amin Surachmad
#berita hoax #pemilih pemula #pesta demokrasi #sosial media #kpu diy