RADAR JOGJA - Keramik memiliki sejarah yang sangat panjang di dunia. Digunakan sejak puluhan ribu tahun yang lalu sebagai alat fungsional kehidupan sehari-hari bagi manusia. Keramik yang terbuat dari tanah liat juga digunakan sebagai alat ritual, alat berkesenian, hingga alat literasi.
Sejarah panjang tanah liat dan keramik dituturkan secara singkat oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja Al Makin. Saat dia menghadiri pameran tunggal Asep Maulana Hakim di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Senin malam (14/8/23).
"Karya anda (Asep, Red) memakai tanah liat ini mengingatkan kita, bahwa sebetulnya manusia mengenal tanah kemudian dibentuk menjadi alat dan karya seni itu sudah sangat lama. Dan anda bagian dari itu," ujarnya pada pembukaan Pameran bertajuk Kisah dari Desa.
Al Makin menuturkan, tanah liat mendominasi alat dan fungsi kehidupan manusia sehari-hari sebelum ditemukannya metal. Tanah liat membantu manusia beraktivitas maupun menjadi media seni dan budaya literasi untuk menuliskan berbagai kisah.
Di antaranya, Al Makin menyebut kisah raja keenam dari Dinasti Babilonia pertama bernama Hammurani. Selain itu disebutkan Wiracarita Gilgamesh, sebuah puisi epik dari Mesopotamia kuno.
"Bahkan era Sumeria dan Babiolonia dan Mesir, profesi menulis di tanah liat menjadi karir tersendiri bagi para sekretaris. Seorang ilmuwan di era kuno itu sekaligus merangkap sebagai pemilih agama atau pendeta," ujarnya.
Lebih lanjut, Al Makin mengatakan kira-kira 28 ribu tahun yang lalu berdasarkan data arkeologi ditemukan sebuah karya tanah liat tertua berupa Dewi Venus. Karya tanah liat itu berupa perempuan yang subur sebagai simbol fertilitas atau kesuburan, ditemukan di Cekoslovakia.
Sementara di Timur Tengah, sekitar 10-20 ribu tahun yang lalu, Al Makin menyebut tanah liat bisa dibentuk dari replika dari manusia hidup atau alam disekitarnya. Termasuk tradisi kuno lainnya di Jepang, Cina, dan Indonesia juga dipenuhi dengan keramik.
"Teknik pembakaran tanah liat sudah lama, ribuan tahun yang lalu. Dan ini juga ditemukan di kerjaan kuno baik produksi lokal atau luar, misalnya dari era Majapahit atau bahkan era sebelumnya Sriwijaya banyak ditemukan keramik dari benua Asia," paparnya.
Meski begitu, tema yang diangkat oleh Asep juga layak diapresiasi. Di dalam karyanya mengandung pesan terhadap lingkungan, kegelisahan dan kekhawatiran. Sekaligus pesan kegembiraan dalam berkarya. (lan/eno)
Editor : Satria Pradika