Walau begitu momentum ini justru sangat berharga bagi sekolah di bidang kesehatan. Terlebih saat ini kebutuhan akan tenaga kesehatan sangatlah tinggi. Khususnya di klinik hingga rumah sakit yang bertugas sebagai garda terdepan penanganan Covid-19.
“Keikutsertaan dalam menangani pandemi itu bagus. Sekolah bisa menjadi agen vaksinasi, sumber infiormasi bagaimana protokol kesehatan. Paling tidak memberikan teladan tentang kondisi pandemi,” jelasnya ditemui di peringatan HUT ke-9 SMK Kesehatan Binatama Sleman, Jumat (17/12).
Siswa tenaga kesehatan, lanjutnya, memiliki kompetensi awal di bidang kesehatan. Setidaknya ini bisa menjadi bekal dalam keikusertaan penanganan Covid-19. Baik secara langsung atau membantu tenaga kesehatan utama.
Dia berpesan agar dalam menjalani aktivitas penanganan medis tidak takut. Dalam artinya tetap waspada dalam setiap tindak tanduknya. Sehingga upaya penanganan Covid-19 dapat berjalan optimal dan efektif.
“Takut boleh tapi jangan terlalu takut. Kalau terlalu takut malah lebih bahaya dari virusnya. Tetap prokes lalu jaga diri karena virus tetap ada. Semua saling menjaga diri menghindari kerumunan dan terapkan protokol keseharan secara disiplin,” pesannya.
Secara tidak langsung keikutsertaan dalam penangnan Covid-19 turut meningkatkan kompetensi. Terutama kepada para siswa yang terlibat langsung di lapangan. Ini karena adanya persinggungan dengan dunia profesional kerja.
“SMK itu intinya link and super match. Kerjasama dengan dunia indutsri yang cocok untuk meningkatkan kompetensi siswa dan guru maupun output lulusan harus terserap dunia kerja,” katanya.
Kepala SMK Kesehatan Binatama Nuri Hastuti menuturkan siswanya sudah terlibat sejak awal pandemi Covid-19. Ada sekitar 80 siswa yang tersebar di rumah sakit dan klinik pratama. Fokusnya membantu penanganan Covid-19 hingga vaksinasi.
Sebelum benar-benar terjun, setiap siswa mendapatkan bekal pengetahuan. Tak hanya dari sekolah tapi juga tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam penanganan Covid-19. Sehingga peran para siswa berjalan optimal.
“Terjun langsung ikut merawat, kami ijinkan saat pandemi praktek kerja lapangan (PKL) di rumah sakit dan klinik. Diminta membantu screening awal, lalu membantuk suntik vaksin karena memang kekurangan tenaga kesehatan,” ujarnya.
Para siswa, menurutnya, tidak mempermasalahkan peran disaat pandemi. Justru para siswa merasa senang karena terlibat dalam penanganan Covid-19. Disatu sisi juga mendapatkan ilmu dari PKL di instansi-instansi kesehatan.
“Ada pembekalan dari rumah sakit terkait safety seperti apa. Kemarin juga ada siswa yang isolasi mandiri karena apoteker lokasi PKL ada yang terkonfirmasi (Covid-19). Maka siswa ikut isolman sesuai protokol yang berlaku,” katanya.
Tentang potensi siswa bidang kesehatan, Nuri memastikan terbuka lebar. Tak hanya berbicara tentang pandemi tapi dalam konteks kesehatan secara umum. Terbukti permintaan tenaga kesehtaan terus meningkat setiap tahunnya.
Permintaan tak hanya dari Indonesia tapi juga luar negeri. Dia mencontohkan lulusan SMK Kesehatan Binatama yang telah bekerja di Jerman, Jepang, Taiwan hingga Tiongkok. Standar upah juga tergolong tinggi menyesuaikan setiap negara.
“Seperti di Jepang, membantu merawat di panti jompo atau tenaga kesehatan di sejumlah pabrik. Sebenarnya tidak ada kendala, hanya memang tidak semua orangtua mengijinkan anaknya kerja hingga keluar negeri. Kalau bicara potensi dan kompetensi, lulusan kesehatan Indonesia tidak kalah,” katanya. (dwi) Editor : Editor News